Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Mei 2019 16:48 WIB

Lewat OPOP, Pesantren Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Nasional

Mustiana Lestari - detikFinance
Foto: KEIN Foto: KEIN
Jakarta - Pesantren yang berjumlah ribuan dan tersebar di berbagai penjuru negeri memiliki peran penting dalam membangun negeri. Dengan sumber daya manusianya yang andal menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing dan perdagangan nasional.

Oleh karena itu, Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Soetrisno Bachir berharap pesantren terus berbenah dan meningkatkan perannya demi kemaslahatan umat.

"Jumlah pesantren saat ini sekitar 22.000 dengan jumlah santrinya sekitar 4 juta. Ini modal dalam pembangunan termasuk di bidang industri dan perdagangan," kata Soetrisno dalam keterangan tertulis, Jumat (3/5/2019).


Ketika menjadi pembicara dalam dialog bertajuk "Strategi Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Pesantren di Ponpes Raudlatul Mutta'alimin, Tasikmalaya, Jawa Barat, Soetrisno menuturkan, peran penting pesantren sebagai lembaga pendidikan adalah memperkuat keterampilan santri sebagai tenaga profesional, berakhlak baik dan punya kompetensi. Dengan demikian, pesantren mampu berperan untuk memajukan ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing.

Lalu, di pesantren yang diasuh KH. Ate Musodik Bahrum itu, Soetrisno mengatakan pesantren juga dituntut mampu mengolah komoditas potensial di sekitarnya agar punya nilai tambah dan menjadikannya sebagai pusat keunggulan ekonomi lokal. Soetrisno mendukung konsep One Pesantren One Product (OPOP) dengan menciptakan nilai tambah komoditas lokal sebagai peningkatan daya saing ekonomi lokal.


Oleh karena itu, kata Soetrisno, daya saing menjadi kata kunci untuk mendukung pemerintah di sektor perdagangan. Apalagi itu disebut sebagai salah satu faktor untuk mengatasi defisit transaksi perdagangan. Lewat konsep OPOP itu, pesantren bisa mengambil peran untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan bisa menghasilkan devisa.

Dikatakan Soetrisno, di samping itu, pesantren juga bisa memperkuat produk lokal untuk konsumsi dalam negeri sebagai pengganti impor.

"Produk-produk lokal Tasikmalaya seperti konveksi, bordir, dan produk hortikultura bisa ditingkatkan daya saingnya sehingga bisa masuk pasar ekspor untuk menambah devisa. Juga mampu menggantikan produk impor," tutup Soetrisno. (mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed