Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Mei 2019 19:01 WIB

8 Provinsi Jadi Lumbung Beras RI, Ini Daftarnya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Herdi Alif Al Hikam/detikcom Foto: Herdi Alif Al Hikam/detikcom
Majalengka - Indonesia memiliki 8 lumbung padi alias daerah penghasil beras. Lumbung padi ini menjadi tumpuan produksi beras.

Delapan wilayah itu adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta. Kemudian, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Sumatera Selatan.

"Produksi beras kita ada di 7-8 provinsi mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Selatan. Tapi yang makan 34 provinsi, artinya dari 8 ini sudah cukup," ujar Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Bulog, Imam Subowo, di Gudang Bulog Ligung, Majalengka, Jawa Barat, Jumat (3/5/2019).

Sebuah daerah, menurut Imam, bisa disebut sebagai lumbung padi apabila produksi beras di daerah tersebut lebih besar dibandingkan dengan konsumsinya. Dia mencontohkan Sulawesi Selatan memproduksi 3,2 juta ton beras, dan konsumsinya hanya berada di kisaran 900.000 ton.


"Produksi padinya di daerah itu surplus dari konsumsi. Misalnya Sulsel itu surplusnya kira kira 2,3 juta ton per tahun produksi 3,2 juta ton, konsumsi 900-an ribu ton," ungkap Imam.

Imam juga memberikan simulasi panen. Di Majalengka misalnya ada sekitar 57 ribu hektar sawah yang produktif hasilkan padi, apabila ada 5 ton hasil panen di setiap hektarnya maka bisa saja hasil panen menyentuh angka 250 ribu ton.

"Sebagai ilustrasi simple begini, Majalengka ini luas lahannya (sawah) saja sekitar 57 ribu hektar, kalau kita asumsikan 5 ton per sekali panen, tembus lah 250 ribu ton," kata Imam.

Menurut Imam Potensi terbesar di Jawa Barat adalah wilayah Indramayu yang lahan sawah produktifnya ada 115 ribu hektar.


"Kalau paling gede (di Jawa Barat) itu Indramayu, dia ada 115 ribu hektar sawah, Subang 87 ribu hektar," ungkap Imam.

Dia menambahkan produksi beras dari delapan wilayah tadi akan didistribusikan oleh pihaknya ke seluruh Indonesia.

"Yang produksi cuma 8 daerah, tapi yang makan itu 34 provinsi. Artinya, hasil serapan Bulog di 8 provinsi ini harus di move ke seluruh Indonesia sama kita," kata Imam.

Mesin giling padi

Imam menambahkan Bulog merevitalisasi mesin penggilingan gabah agar kualitas beras lebih bagus.

"Ada 33 (mesin) tahap pertama, lalu nanti tahap ke dua ada 66 mesin selesai tahun ini semua. Nantinya, penyerapan gabah akan lebih maksimal, hasil kualitas beras juga akan semakin baik, semi premium, harganya sih dibawah HET beras medium Rp 8000an," terang Imam

Setidaknya, sudah ada satu unit penggilingan gabah yang sudah selesai direvitalisasi. Penggilingan itu terletak di Gudang Bulog, Ligung Majalengka.

Imam memaparkan, beberapa mesin yang direvitalisasi diantaranya seperti mesin pengering alias dryer, mesin penggiling, mesin pemisah gabah (sortir), dan mesin pengemasan beras dengan menggunakan karung. Mesin yang telah direvitalisasi ini dapat menggiling 3 ton beras/jam.

"Kita bisa serap gabah lebih banyak, disini ada mesin pengering gabah, terus mesin pemisah gabah, sampe pengemasan ke karung-karung. Kapasitas mesin penggilingnya ini 3 ton per jam, dan hidupnya mesin ini 10 jam per hari," sebut Imam.

Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk merevitalisasi 1 unit mesin sekitar Rp 3,6 - Rp 4 miliar. Untuk itu untuk merevitalisasi 66 unit mesin Bulog, Imam mengatakan Bulog membutuhkan anggaran sekitar Rp 237,6 miliar.

"Ini satu set penggilingan ini sekitar Rp 3,6 - 4 miliar, tergantung kondisinya, mayoritas sampai 90% ada kerusakan," kata Imam. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com