ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Mei 2019 21:00 WIB

Masuk Industri 4.0, Ini yang Harus Dipersiapkan Kampus

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Jakarta - Industri 4.0 mendorong setiap orang untuk lebih kompetitif agar tak tergerus teknologi. Sebagai institusi yang mencetak sumber daya berkualitas, kampus pun dituntut agar bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan tersebut.

Partner & Managing Director Indonesia YCP Solidance Gervasius Patar Haryowibowo mengatakan kampus tidak hanya harus memperkuat kurikulum namun juga jaringan dan keahlian soft skill.

"Yang dibutuhkan saat ini koneksi kepada alumni dan lebih banyak lagi nilai-nilai pembelajaran, tidak hanya kepada technical, tapi soft skill. Seperti kreativitas dan leadership, managing team," ungkap pria yang menjadi konsultan bidang infrastruktur, energi dan teknologi tersebut, di Jakarta, Jumat (3/5/2019).


Data dari World Economic Forum tentang Future of Jobs Project yang dipaparkan Patar, terjadi perubahan kebutuhan skill di dunia kerja. Dalam periode 5 tahun dari 2015 ke 2020, kreativitas menjadi syarat skill yang lebih prioritas di masa depan ketimbang di tahun 2015 lalu.

"Saat ini kreativitas menjadi nomor tiga dalam persyaratan dunia kerja. Di 2015 kreativitas masih nomor 10," paparnya.

Tantangan Industri 4.0, Ini yang Harus Dipersiapkan KampusFoto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Di sisi lain, kemampuan antara lulusan sekolah vokasi dengan universitas juga terjadi gap yang harus dikurangi. Dari lulusan kampus, kata dia, masih kurang memiliki soft skill. Sementara dari lulusan vokasi kurang menguasai operasional produk dan bisnis.

"Jadi harus ada triple helix, adanya kolaborasi perusahaan, institusi/pemerintah, dan universitas. Alumninya bisa membantu untuk meng-connect itu lagi," ujar Patar.

Sementara itu menjawab tantangan tersebut, Ketua Yayasan Pendidikan President University Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji pihaknya akan mengakumulasi kekuatan akademik internal, bekerja sama dengan luar negeri, serta memanfaatkan kapasitas infrastruktur di President University dan Jabaeka. Bukan hanya soal fasilitas namun juga sumber daya manusianya.


"Karena Industri 4.0 itu tidak hanya terjadi di Indonesia tapi dunia. Maka kita terus bergandengan tangan," kata Budi yang juga mengatakan soal peningkatan mutu kurikulum.

"Kalau dulu kurikulum itu berbasis hanya pada kemampuan dosennya saja maka kurikulum bisa dilakukan dengan kerja sama dengan universitas papan atas untuk mengantisipasi perubahaannya itu cepat," lanjut dia.

Rektor President University Prof. Jony O. Haryanto yang juga hadir dalam acara Alumni Sharing tersebut mengatakan pihaknya tidak hanya bertujuan mencetak sarjana-sarjana baru, namun juga entrepreneur baru dengan memperkuat kurikulum.

"Kami memperkuat kurikulum bukan hanya untuk lulus tapi juga menjadikan mereka (mahasiswa) entrepreneur dan lebih lagi," ujar Jony. (prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com