Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 04 Mei 2019 11:00 WIB

Kementan Ingin Kembalikan Kejayaan Rempah

Robi Setiawan - detikFinance
Foto: Kementan Foto: Kementan
Belitung - Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono mengatakan pemerintah akan berupaya mengembalikan kejayaan rempah Indonesia di pasar dunia. Komoditas yang menjadi fokus utama di tahun ini dimulai dengan tiga komoditas besar yaitu pala, lada, dan cengkeh.

Kasdi menyebutkan implementasi dari program tersebut yaitu Kementan memberikan bantuan yang meliputi benih, pupuk, obat-obatan, infrastruktur pertanian, serta mesin-mesin alat pertanian (alsintan).

Selain itu, lanjutnya, kegiatan seperti peremajaan dan rehabilitasi tanaman yang sudah tua juga turut dilakukan.

"Hal ini supaya meningkatkan produksi rempah nasional," kata Kasdi dalam keterangannya, Sabtu (4/5/2019).

Di sisi lain, lanjut Kasdi, Kementan juga sedang menggenjot peningkatan produksi melalui intensifikasi dan pengembangan sentra-sentra baru komoditas.

Oleh karena itu, Kementan merancang program penyediaan benih unggul bermutu melalui program penyediaan benih unggul komoditas perkebunan sebanyak 500 juta batang (Bun500) selama lima tahun ke depan.


"Program tersebut merupakan upaya peningkatan tujuh komoditas perkebunan, utama seperti kakao, kopi, kelapa dalam, karet, pala, cengkeh, dan lada," tuturnya.

Ia pun menjelaskan berdasarkan data BPS, produksi lada secara nasional dari 2014 hingga 2018 mengalami peningkatan rata-rata 0,5%. Pada 2018 produksi lada nasional mencapai 88.715 ton dan jumlah yang diekspor sebesar 47.610 ton. Negara tujuan ekspor lada di antaranya Amerika Serikat, Jerman, India, dan Vietnam.

Adapun luas lahan lada Provinsi Bangka Belitung 52.818 hektare, dengan produksinya yang mencapai 34.812 ton. Sementara itu program Kementan mengembalikan kejayaan rempah Indonesia pun rupanya kabar gembira bagi petani lada di Belitung.

Pasalnya, selain untuk memperbaiki kualitas pertanaman atau meningkatkan produktivitas, juga adanya kepastian pasar ekspor, sehingga harga lada diyakini lebih menguntungkan.

"Kemarin kan kita sudah mendengar dari Bapak Bupati. Jadi beliau sudah memanggil eksportir lada. Kita masih nunggu perkembangan," demikian dikatakan Yordan, petani lada Desa Kacang Blitor, Kecamatan Badau, Belitung, Jumat (3/5/2019).


Yordan merupakan salah satu potret petani lada di Belitung yang fokus mempertahankan kejayaan lada Indonesia. Ia memiliki lahan seluas 2 hektare yang ditanami lada sebanyak 2.000 pohon.

"Tapi ini kita percepat, umur 3 bulan kita potong terus kita naikkan, biasanya kan umur 1 tahun. Ini inovasi kita sendiri karena kita ingin cepat dapat hasil. Kalau cara gini 2 tahun sudah bisa berbuah," terangnya.

Oleh karena itu, Yordan pun mengaku bersama petani lada lainnya menyambut penuh antusias program rempah pemerintah khususnya lada. Hal ini penting agar petani dibimbing dan bisa menerapkan inovasi baru, dari penanaman hingga olahan siap ekspor.

"Kita kan juga ikut dalam forum komoditas lada. Kita juga sering ikut komen komen sama petani lada di seluruh Indonesia rata-rata tentang harga. Artinya program pemerintah nanti bisa selesaikan masalah harga karena orientasinya ke ekspor," ujarnya.

"Kalau harga baik, kami petani tetap semangat untuk membudidayakan terus," imbuhnya. (idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com