Bom Bali II Tak Terlalu Pengaruhi Ekspor
Senin, 03 Okt 2005 14:22 WIB
Jakarta -
Dampak peledakan bom Bali II dipastikan tidak akan terlalu mempengaruhi ekspor Indonesia. Tahun ini ekspor diperkirakan tetap akan tumbuh 10 persen.Kondisi ini berbeda dengan peristiwa bom Bali 12 Oktober 2002 yang mempengaruhi penurunan ekspor hingga 50 persen. Sedangkan dua hari setelah peledakan bom Bali II tidak ada pembatalan permintaan ekspor."Tidak ada implikasi signifikan, karena tampaknya orang sudah terbiasa dengan bom yang terjadi tidak hanya di Indonesia," kata Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Djimanto di sela seminar ekspor di Gedung WTC, Jl. Sudirman, Jakarta, Senin (3/10/2005).Permintaan ekspor, aku Djimanto, tidak mengalami koreksi. Hal ini terlihat dari pembeli asing yang sudah datang lagi untuk melakukan aktivitas jual beli.Nilai ekspor tahun ini diperkirakan tetap bisa tumbuh 10 persen. Apalagi menjelang akhir semester satu dan dua bulan sebelum tutup. Biasanya, lanjut Djimanto, perdagangan meningkat."Ini karena adanya permintaan tinggi dari luar negeri menjelang musim dingin, Tahun Baru dan Natal. Sedangkan peningkatan ekspor di Timur Tengah karena mengantisipasi Idul Fitri," jelas Djimanto yang juga Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).Beberapa produk yang mengalami peningkatan permintaan antara lain garmen, sepatu dan elektronik.Untuk sepatu mengalami kenaikan permintaan karena produk Cina dikenai anti-dumping oleh Eropa, sehingga mereka mengalihkan ordernya dari Indonesia.Menurutnya, yang paling banyak terkena dampak bom Bali adalah sektor pariwisata. Maka itu pemerintah, ujar Djimanto, harus mengampanyekan pada pihak luar kehidupan di Indonesia berjalan normal setelah terjadinya bom Bali dengan terus meningkatkan keamanan wisatawan.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































