Ekonomi RI Cuma 5%, Ekonom: Jangan Kambing Hitamkan Global

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 08 Mei 2019 18:11 WIB
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2019 tercatat 5,07% lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2018 5,06%. Namun angka perekonomian Indonesia tak pernah beranjak dari kisaran 5%.

Menanggapi hal tersebut, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menjelaskan pertumbuhan ekonomi 5% adalah awal yang tidak baik.

"Ini awal yang buruk, tapi ini sudah 4 tahun terakhir lho. Semua ini tidak pengaruh dengan tahun politik, ini pure kajian akademik untuk perbaikan ekonomi ke depannya," kata Enny dalam konferensi pers di Tjikinii Lima, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Dia mengungkapkan, bukan persoalan 5,07% yang jadi masalah dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun yang harus diperhatikan adalah kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memburuk.

Menurut dia, seharusnya jika dilihat pada kuartal I ini ada pemilu yang seharusnya bisa mendorong pengeluaran. Kemudian bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah itu seharusnya bisa mendorong daya beli masyarakat.



Enny menyampaikan, komponen penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 paling banyak dari sektor konsumsi yakni pengeluaran rumah tangga. Namun tak diiringi dari sektor produksi dan industri yang sangat drop bahkan di bawah 4%.

"Kuartal I tahun ini industri hanya 3,86% saya tidak tahu apakah karena pak Airlangga (Menteri Perindustrian) urusi Golkar terus dan tidak urusi Kemenperin. Padahal kuncinya adalah di sektor produktif ini," ujar dia.

Kemudian menurut Enny, saat ini pertumbuhan investasi juga mengalami penurunan yang biasanya 8% kini hanya 5%. Selain itu penjualan kendaraan menurun namun produksi mengalami peningkatan.

"Jadi ini tidak hanya lampu kuning ekonomi Indonesia, kualitas ekonomi yang seperti ini pemerintah jangan mengkambinghitamkan sektor global dan eksternal. Kan global hanya menyumbang 20% untuk sumber pertumbuhan ekonomi, sisanya ada di dalam negeri," imbuh dia.

Enny mengungkapkan, pemerintah harus melakukan maintenance investasi yang saat ini disebut sebagai masa keemasan. Karena ada momen perang dagang yang seharusnya dimanfaatkan karena investasi negara lain seharusnya bisa dinikmati oleh emerging market.

"Indonesia itu basis pertumbuhannya sumber daya, ini artinya ketika kita hanya di 5%-an jangan kambing hitamkan lagi eksternal. Ini sebenarnya ketidakmampuan pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan di dalam negeri," jelas dia.

(kil/eds)