Ekspor Agustus Capai US$ 7,03 M
Senin, 03 Okt 2005 17:16 WIB
Jakarta - Nilai ekspor Indonesia selama Agustus 2005 mencapai US$ 7,03 miliar. Lebih tinggi 0,56 persen dibandingkan ekspor Juli yang sebesar US$ 6,99 miliar.Secara kumulatif nilai ekspor sepanjang Januari-Agustus 2005 mencapai kenaikan 23,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2004.Sedangkan impor Agustus 2005 sebesar US$ 5,40 miliar atau naik 12,16 persen dibandingkan Juli yang sebesar US$ 4,82 miliar. Impor secara kumulatif pada periode Januari-Agustus 2005 mencapai 38,68 miliar, atau naik 32,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2004 sebesar US$ 29,25 miliar. "Impor tinggi karena kita memasukkan barang-barang modal dan bahan-bahan baku. Tapi itu suatu gejala yang bagus untuk ke depan, artinya kita menanam barang modal dalam upaya untuk peningkatan ekonomi kita ke depan," kata Mulyono Muah, Deputi bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) dalam jumpa pers di kantor BPS Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin (3/10/2005). Dijelaskan Mulyono, peningkatan ekspor bulan Agustus disebabkan oleh meningkatnya eskpor migas sebesar 13,95 persen yaitu dari US$ 1,575 miliar menjadi US$ 1,795 miliar. Penyebab utamanya adalah karena meningkatnya ekspor minyak mentah sebesar 11,43 persen menjadi US$ 750,4 juta, gas alam naik 14,15 persen menjadi US$ 879,1 juta dan hasil minyak naik 25,66 persen menjadi US$ 165,5 juta.Ekspor migas pada Agustus 2005 disebabkan meningkatnya volume ekspor minyak, hasil minyak, dan gas alam Indonesia masing-masing sebesar 1,55 persen, 30,71 persen dan 9,57 persen.Kondisi ini juga diikuti oleh naiknya harga minyak mentah dunia dari US$ 55,42 per barel pada Juli 2005 menjadi US$ 61,09 per barel pada Agustus atau naik 10,23 persen.Sedangkan ekspor non migas mengalami penurunan 3,33 persen dari US$ 5,417 miliar menjadi US$ 5,237 miliar. Penurunan ekspor non migas pada Agustus terhadap Juli 2005 terjadi pada produk kayu, dan barang dari kayu. Selain itu mesin peralatan listrik, lemak dan minyak hewan atau nabati, pakaian jadi bukan rajutan, bijih kerak dan abu logam juga mengalami penurunan.
(ir/)











































