Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 17 Mei 2019 11:44 WIB

Ada Perang Dagang AS dan China, Indonesia Malah Bisa Untung

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Australia Plus ABC Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Dunia gembali digemparkan oleh perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Perekonomian dunia pun mulai terjadi gejolak.

Namun jika dilihat secara perspektif, perang dagang tidak seutuhnya berdampak buruk. Dipercaya ada imbas postif dari memanasnya hubungan dagang AS dan China.

Investment Director, Aberdeen Standard Investments Indonesia, Bharat Joshi mengatakan, layaknya perang, perang dagang pasti akan ada yang menang ataupun akhirnya mengalah. Melihat ketegangan perdagangan global, besar kemungkinan bisnis baru akan mengalir ke Asia Tenggara.


Banyak bisnis yang diharapkan mendiversifikasikan rantai pasokan mereka ke Asia Tenggara. Ini akan memberikan dampak bagi para pemasok lokal untuk mendapatkan manfaat dari pergeseran pesanan ke kawasan tersebut. Dalam hal ini, Indonesia juga berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang.

"Saya melihat di dua skenario ini, Indonesia tetap menang. Kalau ekonomi akan terus berkembang, Indonesia untung. Kalau AS dan China tetap berperang, Indonesia juga tidak perlu menaikkan suku bunga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/5/2019).

Menurut Bharat, sangat penting bagi pemerintah, investor maupun pelaku bisnis di Indonesia untuk bisa melihat perkembangan situasi ekonomi dalam negeri maupun global dari sudut pandang yang positif.

Situasi perang dagang antara AS dan China yang akan menimbulkan risiko inflasi dan gejolak nilai kurs sepanjang tahun ini, menurutnya masih lebih baik dibandingkan situasi yang dihadapi Indonesia tahun-tahun sebelum.


Jika melihat catatan sekitar 3 tahun silam, Indonesia harus menghadapi banyak tantangan mulai dari suku bunga AS yang naik, dominasi dolar terhadap rupiah, harga minyak yang juga naik, inflasi, serta harga batu bara yang turun.

"Itu semua datang dari sentimen. Saya yakin investor itu bukan komputer, tetapi manusia yang sedang 'wait and see', menunggu sentimen. Contoh, kalau kamu datang ke kantor negatif, maka semua akan menjadi negatif. Padahal kita seharusnya berpikiran optimis, di saat semuanya berpikiran negatif", kata Bharat. (das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed