Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 27 Mei 2019 18:54 WIB

Saran KEIN Agar Ekonomi RI Terbang dari Level 5%

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Dok. KEIN Foto: Dok. KEIN
Jakarta - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) memiliki beberapa masukan untuk pemerintah agar mampu keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5%. Beberapa upaya itu pun diyakini mampu membuat Indonesia dari zona perekonomian 5%.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan ekspor, investasi dan memperbesar kontribusi UMKM dalam kegiatan perekonomian nasional.

Menurut Arif selama ini pertumbuhan ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga (RT) maupun konsumsi pemerintah.

"Sejak 1990-an, struktur perekonomian masih di konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap perekonomian terbatas di kisaran 9% dan ini tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi," katanya di Pullman Hotel, Jakarta, Senin (27/5/2019).


Berdasarkan kondisi tersebut sudah saatnya pemerintah mulai bergeser mengandalkan ekspor dan investasi untuk menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Hal ini juga sesuai dengan mandat Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan kunci pertumbuhan ekonomi saat ini hanya ada dua, yakni kenaikan ekspor dan investasi.

Namun sayangnya, sambung Arif, sejak 2016 pertumbuhan impor kembali lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspornya. Pada 2018, pertumbuhan ekspor hanya sebesar 6,7%, sementara pertumbuhan impor mencapai 20,2%. Ketergantungan terhadap impor bahan baku industri menjadi penyebab utama tingginya pertumbuhan impor Indonesia.

"Selain itu, pelemahan kinerja ekspor juga disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cihna sehingga cenderung menekan aktivitas perdagangan Indonesia. Ini tidak bisa dipungkiri karena China dan AS merupakan dua negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia," ujarnya.

Kajian Economist Intelligence Unit (EIU) menyebutkan adanya tarif impor akibat perang dagang China dan AS akan lebih berdampak pada pergeseran alur perdagangan. Artinya, menurut Arif, hal ini akan menumbuhkan kesempatan baru bagi eksportir-eksportir (terutama negara berkembang) ketika China dan AS mencari alternatif pemasok lain. Dalam hal ini, negara-negara Asia diperkirakan dapat dapat mengambil keuntungan terbesar.



Sementara itu, dari sisi investasi, menurutnya belum mendapatkan perhatian serius. Hal itu terlihat dari pertumbuhannya yang terus mengalami perlambatan, baik untuk investasi domestik maupun asing. Sulitnya perizinan berinvestasi ditengarai sebagai salah satu penghambat perkembangan investasi di Indonesia.

Investasi yang diharapkan mampu membawa dampak signifikan bagi penyerapan tenaga kerja nyatanya belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal itu disebabkan adanya mismatch antara investasi yang masuk dengan sektor penyerap tenaga kerja.

"Realisasi PMA (penanaman modal asing) ke sektor manufaktur tidak banyak ditujukan untuk sektor-sektor padat karya. Ke depannya, investasi baik asing dan domestik harus diarahkan ke sana," tutup Arif. (hek/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed