Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 27 Mei 2019 19:27 WIB

RI Ekspor Perdana Ikan Patin ke Arab Saudi

Suparno Nodhor - detikFinance
Foto: Suparno Nodhor/detikcom Foto: Suparno Nodhor/detikcom
Sidoarjo - Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) merupakan salah satu ikan yang banyak ditemukan di perairan umum seperti sungai, waduk, dan rawa. Ikan ini memiliki sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat dibudidayakan secara masal.

Produksi patin Indonesia naik 22,2% dari 319.966 ton pada 2017 menjadi 391.151 ton pada 2018 dengan sentra produksi utama meliputi Jawa Timur di Tulungagung, Sumatera Utara di Kabupaten Serdang Bedagai, Riau di Kabupaten Kampar, Jambi Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi, Sumatera Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Kemudian, Lampung di Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Pringsewu, dan Kalimantan Selatan di Kabupaten Banjar.

"Ini ekspor perdana ikan patin ke Saudi Arabia, ini merupakan pertama kali yang dilakukan oleh Indonesia. Untuk saat ini ini akan di berangkatkan sebanyak tiga kontainer sebanyak 60 ton," kata Nilanto Perbowo, Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan di Puspa Agro, Sidoarjo, Senin (27/572019).


Pada 2017 total impor catfish global mencapai 640,87 ribu ton dengan pasar utama adalah Amerika Serikat 17 persen, Mexico 9 persen China 8 persen, Brazil 7% dan Saudi Arabia 5% atau sekitar 30 ribu ton yang dipasok dari Vietnam 48% dan Myanmar 36%.

Pada 2018 total impor catfish global meningkat menjadi 641,31 ton dengan pasar utama Amerika Serikat dan China dengan pangsa masing-masing sebesar 19,0% dan 18,97% sedangkan Saudi Arabia diperkirakan hanya 0,7% (4.503 ton) atau turun 85 persen dibanding tahun 2017 (UN Comtrade, 2019).

"Ikan patin yang diekspor ini untuk memenuhi kebutuhan para jemaah haji Indonesia ini atas kerja sama pelaku usaha perikanan Indonesia. Mudah mudahan ekspor perdana ini bisa disusul dengan ekspor selanjutnya dalam jumlah besar Insyaalllah dalam musim haji bisa terpenuhi," tambah Nilanto.

Penurunan impor patin Saudi Arabia disebabkan berkembangnya isu penyakit dan pencemaran di Sungai Mekong, sehingga Saudi Arabia melarang impor ikan (termasuk patin) dari Vietnam (SeafoodSource, 2018).


Sehubungan dengan potensi produksi dan peluang ekspor patin tersebut, KKP bekerjasama dengan APCI (Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia) dan SMART-Fish Indonesia telah meluncurkan branding.

"Dengan ekspor ikan patin ini ini pernah di kirim ke beberapa negara lain, tapi yang paling utama ke Arab Saudi karena jumlah jamaah haji dan umroh jumlahnya sangat besar sekali," terang Nilanto.

Indonesian Pangasius the Better Choice pada pameran SEAFEX 2018 di Dubai-UEA, serta promosi lebih lanjut pada Expo 2018 dan Hajj and Umroh Exhibition 2019 di Jeddah. Untuk mewujudkan peluang pasar tersebut, khususnya ekspor patin ke Saudi Arabia untuk memenuhi kebutuhan haji dan umroh, KKP bersama APCI telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perdagangan guna melaksanakan Launching Ekspor Perdana Patin Indonesia ke Kerajaan Saudi Arabia pada 27 Mei 2019 di Instalasi Karantina Puspa Agro-Sidoarjo yang selanjutnya akan diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Kebutuhan pasokan patin untuk jamaah haji dan umroh Indonesia diperkirakan mencapai 540 ton, dan pada saat Launching Perdana akan dikirimkan sekitar 3 kontainer 60 ton yang selanjutnya akan dikirim secara bertahap, serta saat ini pihak APCI telah menyiapkan pasokan sekitar 300 ton terdiri dari: cut portion 150 ton dan fillet 150 ton," jelas Nilanto. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com