RI Tolak Paha Ayam AS dan Eropa
Jumat, 07 Okt 2005 17:14 WIB
Jakarta - Menteri Pertanian Anton Apriyantono menolak mentah-mentah rencana impor paha ayam dari AS dan Eropa. Setidaknya ada dua alasan mengapa impor paha ayam tidak boleh dilakukan. Apa saja?"Impor CLQ (chicken leg quarter) dari AS atau negara-negara Eropa lainnya hanyalah wacana dan rumor. Kalau pun ada keinginan dari kalangan tertentu, kami tetap akan menolaknya," tegas Mentan dalam siaran pers yang diterima detikcom, Jumat (7/10/2005).Mentan menjelaskan, ada dua alasan besar impor paha ayam harus ditolak. Pertama, stok produk unggas domestik masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Kedua, kehalalan CLQ masih diragukan.Wacana impor CLQ telah menjadi isu yang meresahkan kalangan perunggasan di Indonesia. AS dikabarkan tengah gencar melobi pemerintah Indonesia setelah gagal melempar CLQ ke Rusia. Meski harganya miring yakni hanya sekitar 5 sen per kg, Rusia menolak karena dinilai sebagai 'makanan sampah' yang biasanya menjadi pakan ternak. Dikabarkan pula ada pemikiran AS akan mengirim CLQ ke Indonesia dengan kemasan bantuan pangan untuk orang miskin.Mentan menegaskan, hingga saat ini belum ada permintaan resmi impor CLQ dari pihak mana pun. Kalau pun sampai ada permintaan, lanjut Mentan, pihaknya tidak akan begitu saja memberikan persetujuan karena kehalalannya tidak terjamin."Yang kita inginkan ASUH, Aman, Sehat, Utuh, dan Halal," tegas Mentan.Ia juga mengaku tidak tahu soal gencarnya lobi dari pemerintah AS terkait impor paha tersebut, apalagi dikaitkan dengan kunjungan Presiden SBY ke AS beberapa waktu yang lalu. "Setahu saya, Presiden tak pernah membicarakan soal ini. Saya kira itu rumor saja," cetusnya.Impor paha ayam itu menurut Mentan hanya akan merugikan peternak domestik. Selain akan menyebabkan harga jatuh, impor CLQ bisa menjadi masalah sensitif jika dikaitkan dengan faktor kehalalannya. "Umat Islam tidak akan terima makanan syubhat (meragukan), apalagi yang terindikasi haram," ujar menteri yang dijagokan PKS ini.Biro Kerjasama Luar Negeri Deptan, Abdurrahman menambahkan, di AS dan Eropa CLQ bukan termasuk bahan pangan yang layak jual. "Di sana, CLQ lebih banyak dipakai sebagai bahan pakan ternak, bukan makanan manusia," tambah Abdurrahman.CLQ merupakan bahan makanan yang berpotensi menimbulkan risiko. Paha ayam biasanya menjadi lokasi penyuntikan antibiotika. Maka, di CLQ itulah biasanya residu antibiotika mengumpul. Dalam satu-dua tahun, risikonya memang belum kelihatan. Tapi setelah sepuluh tahun, residu bisa memicu munculkan kanker tertentu karena bersifat karsinogenik (bahan yang bisa menimbulkan kanker).
(qom/)











































