Kementan Sebut e-Commerce Toko Tani Catat Transaksi Hingga Rp 11,5 M

Nabil - detikFinance
Selasa, 04 Jun 2019 13:30 WIB
Foto: kementan
Jakarta - Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, Toko Tani Indonesia Center (TTI/TTIC) telah banyak berkiprah dalam menjual komoditi pangan dengan harga lebih murah dibanding di pasaran. Sebabnya, pangan dikirim langsung oleh petani.

"Kementan juga menjaga harga di tingkat produsen/petani karena menyangkut kesejahteraan petani. Kami bersama Bulog dan pelaku usaha melakukan pembelian langsung di petani pada harga wajar, agar petani untung," ungkap Agung dalam keterangan tertulis, Selasa (4/6/2019).


Ia melanjutkan, keberadaan TTI mampu memangkas mata rantai distribusi penjualan hasil pertanian yang panjang selama ini. Melalui TTI diharapkan perbaikan distribusi akan terbentuk, karena lebih mendekatkan petani dengan konsumen, sehingga petani selaku produsen memperoleh harga yang layak, dan konsumen memperoleh harga terjangkau.

Program e-commerce TTI sampai akhir Mei 2019 telah mencatat transaksi Rp 11,5 miliar dan melibatkan 423 Gapoktan dan 1.172 TTI.

Agung juga mengatakan selama tahun 2016-2019 pada periode Ramadhan tingkat inflasi mengalami penurunan. Tercatat sejak tahun 2016 berturut-turut berada di level 0,69% di tahun 2016-2017, 0,59% di tahun 2018, dan 0,31% di tahun 2019.


Kementan juga telah melaksanakan Operasi Pasar di 100 titik di berbagai wilayah dan Gelar Pangan Murah (GPM) yang bersinergi dengan PEMDA DKI, PD Pasar Jaya, Asosiasi/Suppplier dan Importir, terutama di pasar eceran, dan lingkungan pemukiman.

Sampai dengan akhir Mei 2019, kegiatan GPM tersebar di 31 Provinsi dengan melibatkan 1.899 Gapoktan dan 4.381 Toko Tani Indonesia (TTI) tersebut telah diterima dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, karena komoditi yang dijual ke konsumen terjangkau dan berkualitas.

Untuk beras misalnya, dijual kisaran Rp 8.500 sampai Rp 8.800/kg di seluruh Indonesia. Bahkan TTIC yang berada di ibukota provinsi selain menjual beras juga menjual cabai, bawang merah, bawang putih, daging sapi, daging ayam, telur ayam, gula, dan minyak goreng di bawah harga pasar.

Perkembangan harga tingkat eceran di wilayah DKI Jakarta sampai dengan awal Juni 2019, untuk komoditas beras, telur ayam ras, daging sapi, gula pasir dan minyak goreng pun stabil dan normal. Bawang putih, bawang merah, cabai merah dan cabai rawit juga mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan minggu pertama-kedua bulan Mei.

Sebelumnya menurut Agung, pemerintah pada 3 sampai 5 bulan sebelum Lebaran telah merencanakan adanya peningkatan produksi, yakni dengan menambah luas lahan tanam berbagai komoditas pangan.

Beberapa komoditas pangan mengalami neraca surplus, dan stok beras saat ini di Bulog sekitar 2,2 juta ton, dan panen masih berlangsung. Pemantauan stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta pada 28 Mei 2019 mencapai 50.752 ton, jauh di atas stok normal 25-30 ribu ton.

Perkiraan neraca kumulatif dari Januari sampai Juni 2019, bawang merah surplus 84 ribu ton, daging ayam surplus 168 ribu ton, cabai rawit surplus 94 ribu ton. Kemudian cabai besar surplus 158 ribu ribu ton, telur ayam surplus 17 ribu ton, gula pasir surplus 388 ribu ton, dan minyak goreng surplus 13,5 juta ton. (mul/mpr)