Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 11 Jun 2019 12:36 WIB

Sri Mulyani Waspadai Ketegangan Perang Dagang AS-China

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku bahwa risiko dari tekanan ekonomi dunia semakin mendekati kenyataan. Hal itu menyusul belum adanya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dengan China untuk menyudahi perang dagang.

Selama acara pertemuan menteri keuangan negara-negara G20 di Fukuoka, Jepang beberapa hari kemarin. Sri Mulyani bercerita, bahwa kondisi perang dagang AS dengan China masih jauh dari titik temu.

"Bahwa posisi belum berubah dalam artian bahwa ketegangan dari perdagangan internasional itu dari sisi retorika maupun action-nya masih sama. Bahkan kita melihat ada kecenderungan lebih menguat," kata Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).


Belum adanya titik temu, kata Sri Mulyani juga lantaran China menginginkan penyelesaian masalah perdagangan dengan multilateral namun AS menginginkan secara bilateral.

Lalu, lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan pertemuan serta pertukaran kebijakan antara kedua negara pun masih jauh terlaksana.

"RRT menganggap mereka telah melakukan apa yang diminta selama ini namun dari AS anggap belum cukup sehingga kita melihat memang lebih dalam keseluruhan pembahasan G20 ini risiko global, downside risk terealisir," ujar dia.

Kendati demikian, wanita yang akrab disapa Ani ini menyebut organisasi internasional seperti IMF, OECD, hingga World Bank (WB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Hal itu dampak dari perang dagang.

"Makanya kemudian IMF, OECD, WB seluruhnya mengatakan dengan adanya risiko downside risk yang terealisir ini proyeksi output tahun ini menurun," jelas dia.


"Kalau di IMF 3,3% ini sudah 0,5% lebih rendah dari original projection untuk 2019, untuk di WB juga sama penurunannya," tambah dia.

Bahkan, kata Sri Mulyani, yang perlu diwaspadai Indonesia adalah pelemahan volume perdagangan internasional tahun ini yang tumbuh 2,6% atau terendah sejak 2008.

"Artinya untuk Indonesia kita akan melihat bahwa tantangan dari growth global yang melemah itu untuk paruh ke dua menjadi sangat nyata," ungkap dia. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com