Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 16 Jun 2019 14:35 WIB

Peluang Industri RI di Tengah Panasnya Tensi Perang Dagang

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Ruly Kurniawan Foto: Ruly Kurniawan
Jakarta - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi peluang bagi Indonesia. Sebab, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Minggu (16/6/2019).

"Bagi Indonesia, sebetulnya perang dagang AS-China ini zero sum game, yang artinya tidak ada yang diuntungkan. Tetapi, di sini kita punya peluang. Adanya trade war ini, orang melihat negara kita berada di zona aman," kata Airlangga.

Airlangga menjelaskan, Indonesia telah masuk zona aman investasi sejak 20 tahun lalu yakni setelah berakhirnya Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi. Dia bilang, dengan kondisi geopolitik yang stabil Indonesia makin diincar investor asing.


Sementara, beberapa waktu lalu lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) Global Ratings meningkatkan peringkat utang jangka panjang atau sovereign credit rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil. Dengan demikian, Indonesia kini memperoleh status layak investasi atau investment grade dari ketiga lembaga pemeringkat internasional, yakni S&P, Moody's, dan Fitch.

Selain itu, dia bilang, Indonesia sedang dipandang sebagai salah satu negara yang serius dalam mengembangkan ekonomi digital. Itu menjadi nilai positif tersendiri bagi para pelaku usaha dunia.

"Bahkan, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melihat Asia Tenggara terutama Indonesia bisa menjadi ground untuk digital economy," tuturnya.

Untuk itu, salah satu langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional agar bisa lebih kompetitif dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. "Indonesia masih menjadi daya tarik untuk investasi industri berbasis elektronika, garmen, alas kaki, serta makanan dan minuman," imbuhnya.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin Janu Suryanto mengemukakan, Sharp akan merelokasi pabrik mesin cuci dua tabung dari Thailand ke pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC). Rencananya, peresmian ekspansi pabrik Sharp akan dilakukan bulan depan.

"Jadi, nanti ada penambahan lini produksi. Ini juga untuk pasar ekspor. Mereka akan menyerap ratusan tenaga kerja," ujarnya.


Sedangkan, LG akan merelokasi pabrik pendingin ruangan dari Vietnam ke fasilitas produksi yang ada di Legok, Tangerang. LG akan mulai produksi dan memasarkan produknya sebanyak 25 ribu unit pada September 2019. Selanjutnya, jumlah produksinya ditargetkan naik menjadi 50 ribu unit.

"Ya, paling tidak nanti bisa di ekspor (juga) ke ASEAN. Investasi Sharp dan LG sekitar ratusan miliar rupiah," imbuhnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com