Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Jun 2019 15:33 WIB

Boeing Dapat Pesanan 200 Pesawat 737 MAX Pasca Kecelakaan

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Pemilik British Airways, International Airlines Group (IAG) akan menggelontorkan US$ 24 miliar atau setara dengan Rp 340 triliun (kurs Rp 14.200) untuk membeli pesawat 737 MAX milik Airbus. Rencananya, ada 200 pesawat yang akan dibeli.

IAG akan menjadi perusahaan pertama yang menandatangani surat keinginan pembelian setelah dua kasus kecelakaan dari pesawat tersebut.

Pesawat senilai Rp 340 triliun tersebut ternyata diperoleh setelah mendapatkan diskon besar. IAG sendiri merupakan pelanggan tetap Airbus untuk pembelian pesawat jenis jet single-aisle.

"Kami percaya pada Boeing dan berharap bahwa pesawat akan berhasil melayani dalam beberapa bulan ke layanan setelah menerima persetujuan dari regulator," kata Kepala IAG Willie Walsh dalam keterangan tertulis yang dikutip detikFinance dari ChannelNewsAsia, Kamis (19/6/2019).

Walsh sendiri tak asing terhadap produk pesawat jenis Boeing. Sebab, ia memulai karier sebagai pilot terbang jenis pesawat 737-200, atau pendahulu MAX.

Boeing saat ini juga sedang berjuang untuk mendapatkan kembali kepercayaan penumpang, pilot dan regulator setelah kasus kecelakaan yang terjadi pada Lion Air Indonesia dan Ethiopian Airlines.

Kepala Pesawat Komersial Boeing Kevin McAllister pun mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan peninjauan secara menyeluruh dari proses produksi guna memastikan pesawat aman.


"Prioritas kami adalah untuk mendapatkan pesawat ini kembali dengan aman. Ini adalah momen penting bagi kita semua," jelasnya di Paris Air Show.

Akibat kasus kecelakaan tersebut, Boeing sendiri menghadapi berbagai kritikan. Salah satunya menuduh Boeing gagal menguji sistem yang hanya menggunakan satu sensor untuk menentukan apakah pesawat beresiko terhenti, atau gagal menginformasikan kerusakan.

Maka dari itu, Boeing berjanji untuk memperbaiki mesin yang akan mencakup dua sensor, meskipun beberapa regulator mungkin meminta perusahaan untuk menyediakan tiga, untuk jaga-jaga menghindari ketidakpastian pembacaan yang berbeda.

"Kami sangat yakin bahwa tiga lapis perlindungan yang kami rencanakan dengan pembaruan perangkat lunak akan mencegah hal seperti ini terjadi lagi," sambung McAllister.

Sementara itu, Direktur Jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) Alexandre De Juniac memperingatkan sertifikasi pengoperasian terhadap pesawat 737 MAX tidak akan keluar sampai dengan Agustus. Sehingga masih belum jelas kapan pesawat dapat diterbangkan lagi.

Beberapa maskapai bahkan tidak mengambil risiko, misalnya American Airlines baru-baru ini membatalkan semua pesanan pesawat jenis 737 MAX.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com