Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 23 Jun 2019 16:43 WIB

Drone AS Ditembak Jatuh, Maskapai ramai-ramai Hindari Langit Iran

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Setelah Iran menjatuhkan pesawat drone Amerika Serikat (AS) pada 20 Juni 2019, sejumlah maskapai internasional mulai membatasi penerbangan yang melewati wilayah tersebut. Ketegangan antara Iran dan AS menyebabkan maskapai internasional harus mengubah rute penerbangannya menjadi lebih jauh dan lama, serta memakan biaya yang jauh lebih besar.

Semenjak Iran meluncurkan misilnya itu, Federal Aviation Administration atau Administrasi Penerbangan Federal AS melarang maskapai AS untuk terbang di wilayah Teluk Oman dan Teluk Persia. Dilansir dari CNN Business, Minggu (23/6/2019), United Airlines membatalkan penerbangan ke India dan Newark hingga 1 September.

Menanggapi hal tersebut, Qantas, Britis Airways, KLM and Lufthansa juga akan mengambil langkah yang sama. Mereka akan mengubah rute menuju Dubai, Doha, dan Abu Dhabi serta pesawat-pesawat yang transit di kawasan tersebut untuk menuju benua Asia atau pun dari Asia.


Tak hanya maskapai barat, maskapai internasional Timur Tengah seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways juga akan menghindari kawasan-kawasan yang berpotensi konflik. Emirates menyatakan antisipasinya tersebut pada Jumat, (21/6/2019).

Kemudian, Etihad menyatakan bahwa hal ini menjadi keputusan penting demi keselamatan penumpang maupun maskapai. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Teluk Arab akan dibatasi. Tak hanya Teluk Persia dan Teluk Oman, maskapai internasional juga telah menghindari jalur penerbangan yang melalui Suriah dalam beberapa tahun terakhir ini. Yaman juga telah menjadi wilayah terlarang untuk maskapai sejak 2015. Tak lupa juga wilayah Sinai Utara, Mesir yang menjadi kawasan perang gerilyawan islam.

Hal tersebut tentunya akan menghabiskan waktu dan biaya. Karena, bagi maskapai komersil dan maskapai logistik, pembatasan penerbangan ini artinya pesawat harus mengambil jalur memutar yang akan menghabiskan waktu dan uang. Dalam setahun, maskapai internasional bisa menghabiskan biaya US$ 180 miliar. Artinya, jika menambah durasi terbang hingga setengah jam akan menghabiskan miliaran dolar lagi. Padahal, ancaman keamanan dari Timur Tengah ini munculnya tak dapat dipastikan.

Menurut Mark Zee, pendiri OpsGroup, organisasi yang memantau wilayah penerbangan udara mengatakan, Timur Tengah selalu menjadi kawasan kompleks untuk maskapai penerbangan. Terutama selama 6 bulan terakhir ini.


"Tak peduli ke arah mana kamu berbelok, rute penerbangan telah terputus," kata Mark Zee.

Namun, sejumlah maskapai yang terbang dari Eropa seperti London, Amsterdam, dan Frankfurt masih harus melintasi Timur Tengah untuk menuju Asia, tepatnya seperti Singapura dan Bangkok. Zee mengatakan, timur tengah adalah wilayah besar yang krusial untuk penerbangan, sehingga tak banyak alternatif dari wilayah tersebut. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com