Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 04 Jul 2019 17:47 WIB

Buwas Ungkap Alasan RI Belum Bisa Ekspor Beras

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Muhammad Iqbal Foto: Muhammad Iqbal
Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) ungkap alasan yang menjadi faktor belum terwujudnya ekspor beras RI. Faktor utamanya yakni harga yang masih belum bersaing.

"Kalau kita lihat harga beras internasional itu rata-rata Rp 6.200 sekarang ya. Nah, dengan produksi beras kita yang sama dengan nilai itu, harga paling rendah di kita adalah Rp 8.000. Jadi selisihnya kan jauh ya, ada sekitar Rp 1.800. Nggak mungkin kita bersaing itu, karena pasti kalau ekspor itu patokannya harga internasional," jelas Buwas usai menghadiri rapat koordinasi bantuan pangan nasional dengan Kementerian Sosial, di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Menurut harga beras internasional yang dikutip dari Food and Agriculture Organizations (FAO), harga internasional beras ekspor dari Thailand sendiri seharga US$ 428 per ton atau setara dengan Rp 6.049.780 (kurs Rp 14.000). Artinya, harga beras ekspor Thailand per kilogramnya sekitar Rp 6.049 (data Juni 2019).


Sedangkan, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga beras kualitas bawah I hari ini, yang termurah di Indonesia, yakni di wilayah Sulawesi adalah Rp 9.000/kg. Artinya, selisih harga beras termurah milik Indonesia dengan harga beras ekspor Thailand sekitar Rp 2.900.

Buwas mengatakan, tingginya harga beras di Indonesia karena mahalnya biaya produksi. Hal itu disebabkan oleh sejumlah mekanisme perolehan beras ini masih menggunakan cara konvensional. Padahal, kualitas yang diberikan sama.

"Kualitas sebenarnya hampir sama, cuma kita cost-nya tinggi. Memproduksi cost tinggi itu karena kita masih banyak dengan konvensional. Kalau mereka dengan sistem, kita dengan manusia. Seperti itu ya cost-nya tinggi," terang Buwas.


Buwas mengatakan, jalan lain untuk ekspor beras yakni mengolahnya menjadi produk jadi maupun setengah jadi.

"Kalau tidak bisa diekspor maka kita akan harus bikin produksi jadi. Mengolah itu dengan jadi. Walaupun ini bukan kewenangan Bulog, tapi kita akan bersinergi terus. Salah satunya kita buat beras ini menjadi bahan setengah jadi, misal tepung beras, ini bisa kita ekspor, dan banyak negara yang membutuhkan itu. Contoh Filipina, Jepang, Korea, butuh itu," katanya.

Simak Video "Mentan dan Buwas Diceletuki Pedagang soal Mahalnya Harga Beras"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed