Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 05 Jul 2019 12:02 WIB

Ini Pinjaman yang Disebut Bikin Bank BUMN Digadaikan ke China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma-detikFinance Foto: Hendra Kusuma-detikFinance
Jakarta - Anggota Komisi XI Eva Kusuma Sundari dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan direktur utama Bank BUMN menyebut di media sosial masih ramai isu terkait bank BUMN yang digadaikan ke China.

Ini terkait dengan pembiayaan dari China Development Bank (CDB) kepada tiga bank BUMN.

Sebenarnya kapan pinjaman itu diberikan dan berapa jumlahnya?

Mengutip pemberitaan detikFinance 17 September 2015, Menteri BUMN Rini Soemarno membawa Direktur Utama dari 3 bank BUMN ke Beijing, China. Untuk menandatangani perjanjian utang dengan Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD).


Bank China ini memberikan utang senilai US$ 3 miliar PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Setiap perbankan memperoleh alokasi kredit US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun dari CDB. Suntikan pinjaman dari CDB akan dipakai untuk financing dan refinancing berbagai program pembangunan dan perdagangan.

Pinjaman ini akan dipergunakan oleh Bank BUMN untuk pembiayaan infrastruktur dan proyek lain yang meningkatkan ekspor.

Komposisi pinjaman adalah 30% dari dana tersebut akan dalam mata uang yuan atau Renminbi (RMB). Sementara sisanya dalam bentuk dolar AS.

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo dalam RDP di Komisi XI kemarin menjelaskan memang sebelumnya di media sosial ramai jika pinjaman dari CDB ini untuk pembiayaan kereta cepat. "Ramai di media sosial pinjaman CDB ini untuk kereta cepat, padahal pembiayaan kereta cepat itu langsung dari CDB secara b to b, tidak ada lewat Himbara," kata dia.


Dia mengungkapkan, pinjaman luar negeri bukan hanya dari China tapi juga dari JP Morgan, Deutche Bank. Ini untuk pembiayaan valuta asing yang proyeknya juga menggu akan valas.

"US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun itu biasa pinjamannya. Aset kami Rp 1.200 triliun itu jauh sekali apalagi dengan skema B2B untuk proyek dalam bentuk valas. Ini normal dan tidak perlu dikhawatirkan," kata dia.


Tonton juga video terbaru Topreneur tentang bisnis sandal beromzet Rp 50 juta/ bulan di sini:



Simak Video "Sisihkan Ribuan Peserta, Nanobubble.id Juarai WMM 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com