Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 09 Jul 2019 13:55 WIB

Pedagang Tak Yakin RI Bisa Ekspor Beras dalam Waktu Dekat

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah Foto: Selfie Miftahul Jannah
Jakarta - Sempat ramai masalah stok beras 2,2 juta ton di gudang Perum Bulog yang terancam busuk. Bahkan kini stoknya sudah bertambah menjadi 2,4 juta ton beras. Kemudian, Dirut Bulog Budi Waseso menyarankan untuk beras tersebut dapat diekspor. Menanggapi hal tersebut, pengamat pertanian serta Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) angkat bicara.

"Kita untuk ekspor beras itu nggak bisa, ekspor beras itu susah, ekspor dalam skala yang besar itu kurang tepat," ujar pengamat pangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rusli Abdullah ketika dihubungi detikFinance, Selasa (9/7/2019).

Rusli mengatakan, surplus beras dalam negeri masih belum cukup untuk ekspor. Selain itu, harga beras dalam negeri juga masih mahal apabila dibandingkan dengan negara lain.

"Kalau seandainya ekspor ya nggak bisa, karena surplusnya masih sedikit. Kedua, beras kita mahal. Kita mahal dibandingkan Vietnam, Thailan, China, India, Filipina, kita masih mahal per satu kilogram," tambahnya.


Kemudian, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, Indonesia masih dililit masalah mendasar dalam pertanian padi. Sehingga, untuk ekspor masih jauh jalannya. Namun, ia mengatakan tak mustahil bagi RI untuk ekspor beras.

"Sebenarnya kalau semua program berjalan dengan baik, kemudian produktivitasnya bisa ditingkatkan, kualitasnya juga bisa ditingkatkan, tidak mustahil suatu saat akan bisa ekspor, suatu saat ya," ungkap Sutarto kepada detikFinance.


Ia pun menyebutkan, masalah mendasar dalam pertanian padi yakni persoalan lahan dan infrastruktur pertanian.

"Yang mendasar itu persoalan lahan, ini yang harusnya diperbaiki, menjadi prioritas utama, setelah itu baru bagaimana infrastruktur. Infrastruktur itu jalan usaha tani, seperti jaringan pengairan, sarana produksinya, itu harus tersedia tepat waktu dan tepat jenis. Kemudian masuk lagi penanganan-penanganan pasca panennya. Kita juga harus precision farming. Kalau lahan sudah beres, precision farming bisa diterapkan," terang Sutarto.


Simak Video "Harga Beras Tinggi Bikin Bulog Gagal Ekspor Beras"

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Mentan Curhat Pernah Difitnah Terima Gratifikasi Pabrik Gula"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com