Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 09 Jul 2019 17:29 WIB

Ingin Harga Beras RI Bersaing di Internasional? Begini Caranya

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Faktor persaingan harga membuat Indonesia belum bisa mengekspor beras. Pasalnya, selisih harga beras RI dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand terpaut sekitar Rp 2.900. Kemudian, surplus stok beras RI yang hanya sekitar 2,4 juta ton juga belum cukup untuk diekspor.

Namun, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso tak mustahil bagi RI untuk ekspor beras.

"Sebenarnya kalau semua program berjalan dengan baik, kemudian produktivitasnya bisa ditingkatkan, kualitasnya juga bisa ditingkatkan, tidak mustahil suatu saat akan bisa ekspor, suatu saat ya," ungkap Sutarto kepada detikFinance, Selasa (9/7/2019).


Kemudian, Pengamat pangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan untuk menekan harga beras yang pertama harus dilakukan adalah melakukan mekanisasi. Artinya, segala proses yang dilakukan dengan cara konvensional, seperti pemotongan padi harus diubah dengan menggunakan mesin.

"Mekanisasi dalam artian sekian proses pemotongan padi itu dilakukan dengan mesin," ujar Rusli ketika dihubungi detikFinance.

Rusli mengungkapkan, pemotongan padi yang dilakukan dengan cara konvensional akan menyebabkan potensi gabah yang tercecer atau terbuang lebih banyak. Terutama ketika proses pengiriman padi dari sawah ke tempat penggilingan yang masih menggunakan cara konvensional.

"Kalau pemotongan padi dilakukan dengan mesin dapat meminimalisasi gabah-gabah yang terbuang. Kalau mengangkut gabah dari sawah diangkut manual ke rumah, terus dijemur itu kan banyak yang hilang gabahnya, tercecer. Nah saat ini masih banyak yang seperti itu (menggunakan cara konvensional)," jelas Rusli.

Kedua yakni melakukan konsolidasi lahan. Pasalnya, di Indonesia kepemilikan sawah per orangan itu kecil. Hamparan sawah yang luas itu adalah milik banyak orang yang kemudian dipetak-petak. Sehingga, proses tanam dan panennya tak akan serempak. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dalam produksi.

"Kedua konsolidasi lahan. Di kita kan saat ini kalau kita ke desa banyak sawah yang hamparan luas tapi dipetak kecil-kecil. Kalau di luar negeri kan satu orang punya pertanian besar sekali. Kalau di kita satu petani mungkin 20-50 meter persegi, itu yang membuat petani padi kita nggak efisien," papar dia.

Ia mengatakan, kepemilikan sawah yang berbeda-beda di satu hamparan luas ini akan menyebabkan waktu dan hasil produksi yang berbeda-beda.

"Masing-masing orang punya waktu produksi dan hasil yang beda-beda, jadi nggak efisien. Coba kalau pembatas sawahnya itu dihilangkan, sehingga cukup satu hamparan sawah itu dikerjakan bersama-sama dengan tingkat ketekunan yang sama. Otomatis kan hasilnya akan optimal, itu yang perlu dilakukan di Indonesia. Selama ini kan tidak, hasilnya beda-beda, jadi tidak optimal," ucap Rusli.

Lalu, Sutarto juga menyebutkan cara untuk menekan harga beras dalam negeri yakni memperbanyak produksi dengan cara memaksimalkan panen menjadi dua kali dalam setahun.

"Sebenarnya kalau kita punya lahan seperti sekarang 7,1 juta hektare (Ha). Kalau 7,1 juta Ha ini bisa tanam dua kali saja, itu artinya kan sudah panen sekitar 14 juta Ha lebih. 14 juta Ha kalau dikali 5 ton, atau katakanlah kita bisa tingkatkan 6 atau 7 ton padi per Ha, itu kan artinya sudahh di atas 70 juta ton," kata Sutarto.


Ia kemudian mengatakan, dari 70 juta ton tersebut apabila rendemannya (padi yang jadi beras) bisa 60% maka dapat menghasilkan 42 juta ton beras. Sehingga, stok ini dapat memenuhi stok beras per tahun rata-rata 30 juta ton. Sisa 12 juta tonnya tersebut yang kemudian dapat diekspor.

"70 juta ton itu kalau penanganan pasca panennya benar tentunya rendemannya bisa 60%. Kalau 60% dari 70 juta ton padi itu kan sudah 42 juta ton beras. Padahal kebutuhan kita hanya 30 juta ton. Jadi kalau hitung-hitungan di atas kertas sebenarnya bisa," imbuhnya.

Sutarto mengatakan, untuk mencapai hal tersebut maka pertanian di Indonesia harus menggunakan teknologi terpadu sehingga pengelolaan tanamnya terpadu atau biasa disebut dengan integrated corp management.

"Tapi dengan catatan tadi mampukah kita menggerakkan yang 7,1 juta Ha sawah padi itu menjadi dua kali tanam. Ternyata kan sebagian belum bisa, sehingga dalam satu tahun itu biasanya hanya panen sekitar 12 juta Ha sawah padi. Kalau bisanya 12 juta Ha sampai 13 juta Ha, artinya masih ada peluang sekitar 2-3 juta Ha yang harus diperbaiki irigasinya. Jadi supaya bisa tanam minimum dua kali. Jadi kalau irigasinya disiapkan dengan baik, kemudian teknologi masuk di situ secara terpadu, jadi bisa integrated corp management," pungkasnya.



Tonton Video Harga Beras Tinggi Bikin Bulog Gagal Ekspor Beras:

[Gambas:Video 20detik]


Ingin Harga Beras RI Bersaing di Internasional? Begini Caranya



Simak Video "Mentan Curhat Pernah Difitnah Terima Gratifikasi Pabrik Gula"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com