Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 13 Jul 2019 13:53 WIB

Hadapi Bonus Demografi, Kementan Genjot Modernisasi Pertanian

Nurcholis Maarif - detikFinance
Foto: kementan Foto: kementan
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) terus menyiapkan sarana dan prasarana menghadapi bonus demografi yang diperkirakan mencapai 64%. Pasalnya, ini akan menghadirkan besarnya komposisi usia produktif ketimbang usia nonproduktif.

"Karena itu, kami terus membuat kebijakan dan program terobosan seperti mentransformasi pertanian tradisional menjadi modern serta meningkatkan kualitas SDM," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan, Ketut Kariyasa, dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/7/2019).

Kariyasa mengatakan, modernisasi pertanian dapat menjadi hal menarik karena memanfaatkan teknologi dan digital. Terobosan ini juga diharapkan membuka mata anak muda untuk terjun langsung ke sektor pertanian.


"Apalagi sejak tahun 2014, Kementan telah mendistribusikan bantuan alat mesin pertanian dalam jumlah besar, yakni lebih dari 400 ribu unit," katanya.

Menurut Kariyasa, seluruh bantuan terbukti telah memberi manfaat besar, terlebih untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Namun di sisi lain, bantuan dan bonus itu dapat memberi ancaman jika tidak dikelola dengan baik.

"Terutama dari aspek penyediaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan SDM," katanya.

Melalui modernisasi generasi muda juga akan merasa bangga karena sektor pertanian mampu memberikan pendapatan yang tidak kalah besar dengan upah seorang pegawai lain. Pertanian juga tidak melulu bergelut dengan lumpur dan terpaan sinar matahari.

"Cara bekerja pertanian tidak lagi mengandalkan otot yang sangat meletihkan. Tapi, di era ini, pertanian sudah menggunakan alsintan," katanya.

Di samping itu, pemanfaatan alsintan berdampak besar pada nilai ekonomi petani hingga 80%, kemudian menghemat biaya produksi hingga 31% dan meningkatkan produktivitas hingga 33%.

Pada saat yang sama, Kementan juga berupaya meningkatkan kualitas dan keterampilan SDM, khususnya para petani milenial dengan membangun 10 Polbangtan sebagai wahana pencetakan pengusaha muda.

"Untuk mewujudkan Polbangtan yang berkelas dunia, kualitas materi dan metode pengajarannya pun terus diperbaiki dan disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan jaman," katanya.

Sekedar diketahui, minat anak muda pada bidang pertanian cukup besar. Ini terlihat dari pelamar Polbangtan yang membludak dan meningkat sampai 1.238%, di mana angka tersebut awalnya hanya 980 orang menjadi 13.111 orang pada tahun 2018.

"Kami juga melibatkan sarjana pertanian sebagai pendamping penyuluhan pertanian dalam Program UPSUS, membentuk Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA) dan membangun wirausaha seperti start up muda pada Taman Sain Pertanian (TSP) dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia," pungkasnya.


Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Luthfi Fatah mendukung upaya pemerintah dalam mentransfomasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Kata dia, langkah tersebut sangat tepat untuk mempengaruhi minat anak muda agar terjun langsung ke sektor pertanian.

"Makanya bonus demografi ini adalah peluang yang sangat bagus jika dibarengi dengan pengelolaan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, programnya pak Menteri (Amran Sulaiman) soal mekanisasi sangat bagus dan membuka mata anak muda," katanya.

Meski demikian, Luthfi menambahkan bahwa mekanisasi yang ada harus diikuti dengan inovasi baru untuk membangkitkan jiwa usaha anak muda.

"Sebab kalau dari riset yang kami kembangkan jiwa usaha anak muda sekarang sangat kurang. Makanya harus terus dikembangkan supaya mereka bangkit," ujar Luthfi.

Simak Video " Petisi Ragunan, Kementan Cabut Gugatan ke Yeka Hendra Fatika "
[Gambas:Video 20detik]
(prf/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed