Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 14 Jul 2019 12:08 WIB

Lipsus Dulang Rupiah dari TV Jadul

Tontonan Digital Berjamuran, Matikan Bisnis TV Jadul?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Seiring perkembangan teknologi saat ini, berbagai perangkat digital mulai tersedia di mana-mana. Orang-orang, tak perlu repot untuk mendapat hiburan dari barang-barang lawas. Tinggal buka internet, berbagai hiburan seperti tontonan televisi (tv) pun bisa mudah didapat.

Untuk menandingi kuatnya pengaruh internet tersebut, bahkan berbagai produsen elektronik berlomba untuk meluncurkan produk-produk baru seperti tv pintar atau smart tv yang dapat mengakomodasi layanan internet.

Kalau sudah begitu, bagaimana dengan nasib tv tabung nan jadul yang sudah tak lagi diproduksi? Lebih-lebih para pelaku jasa reparasi tv jadul yang masih bertahan hingga kini?

Salah seorang penyedia jasa reparasi tv jadul Nano Sukarno, mengatakan perkembangan teknologi yang terjadi saat ini memang banyak berdampak terhadap bisnis yang digelutinya. Seiring waktu berjalan, pengguna jasanya terus menurun.



"Kalau ini bagaimana ya, ya pasang surut. Sekarang alhamdulillah standar. Kalau baru-baru masuk tv panel, lcd, ya itu agak turun. Menurun drastis," kata Nano kepada detikFinance beberapa waktu lalu di kiosnya kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Meski begitu, Nano mengaku masih punya pelanggan setia. Paling tidak, dalam sehari Nano bisa mendapat pelanggan minimal 1 orang. Menurutnya, kondisi itu sudah terbilang lumayan.

"Kalau dulu, pas belum muncul tv yang tipis-tipis bisa lima pelanggan sehari. Ya tapi tergantung juga sih sebenarnya, namanya juga bisnis ada naik turun. Disyukuri saja," katanya.

Untuk menambah peluang penghasilan, kini Nano tak hanya membuka jasa reparasi tv tabung, tapi juga menjualnya. Hasil penjualannya pun cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

"Kalau sekarang tv 14 inchi bisa Rp 250-300 ribu kita jual. Itu sudah kondisi siap pakai. Kita jaminan sebulan. Kalau yang 21 di atas Rp 500 ribu, tergantung kondisi," kata dia.

Dari usahanya itu, dalam sebulan rata-rata Nano masih bisa mendapatkan penghasilan Rp 4 juta. Meski cukup besar untuk ukuran reparasi tv jadul, namun kata Nano penghasilan yang didapatnya itu sejatinya menurun.

Dia bilang, saat masa jaya-jayanya tv tabung, ia bahkan bisa mendapatkan penghasilan lebih dari itu. Walau begitu, Namo mengaku tetap bersykur masih bisa mengais rezeki dari bisnis reparasi tv. Ia meyakini masih ada banyak pelanggan yang mau menggunakan jasanya walau bermunculan tv-tv pintar.

"Namanya juga perkembangan zaman ya, kita harus enjoy aja. Yang penting bisa ngebul buat dapur ya," kata Nano.


Tontonan Digital Berjamuran, Matikan Bisnis TV Jadul?


Simak Video "Waktu Terbaik bagi Gibran Rakabuming untuk Jualan: Usai Salat Jumat"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com