Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 14 Jul 2019 14:15 WIB

Alasan di Balik Masih Bertahannya Bisnis TV Jadul

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta -

Tontonan televisi (tv) jadi satu asupan hiburan yang biasa dinikmati setiap orang. Kini, berbagai macam televisi telah dimodifikasi para produsen untuk agar tak hanya memberi tontonan biasa, namun juga hiburan lainnya. Tv-tv digital nan pintar pun bermunculan.

Dengan body tipis, tv pintar atau smart tv bisa memberikan layanan selain menonton, contohnya akses internet. Meski tv-tv pintar itu terus bermunculan, bisnis tv jadul masih ada hingga sekarang. Bisnis yang dimaksud meliputi reparasi tv tabung, hingga jual-beli tv tabung.

Salah satu pelaku bisnis tv tabung Nano Sukarno mengaku, dirinya masih bertahan di bisnis tersebut karena masih memiliki pelanggan setiap yang menggunakan jasanya, baik untuk reparasi maupun jual beli tv. Dia bilang, kalangan menengah ke bawah menjadi segmentasi utama yang disasarnya.

"Orang namanya bisnis pasti masih bisa bertahan karena ada yang pakai jasanya. Kalau sudah nggak ada pelanggan ya baru berhenti. Tapi kan saya dari dulu sampai sekarang ada saja pelanggan, alhamdulillah," kata Nano kepada detikFinance beberapa waktu lalu di kiosnya kawasan Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan.

Nano bercerita, dirinya sendiri terjun ke bisnis ini karena dorongan dari orang tua. Dia mengatakan, dulu, orang tuanya juga menjalani bisnis reparasi seperti dirinya. Karena itu, dia mengikuti jejak orang tua hingga sekarang.

"Saya awalnya juga nggak terlalu minat, tapi karena ada dorongan dari orang tua, lalu diajari. Dari zaman radio dulu, belum ada tv. Jadi dari orang tua awalnya radio-radio, belum ada tv, tahun 1975-an," katanya.

"Ya alhamdulillah sampai sekarang lah ya, mungkin barokah ya. Karena nurut sama orang tua kali ya. Jadi masih bisa hidup dan bertahan sampai sekarang dari usaha ini," sambungnya.


Nano mengatakan sebenarnya tak memiliki kesulitan yang berarti dalam menjalani usaha ini. Dia juga mengaku tak kesulitan mendapat komponen yang diperlukan untuk memperbaiki tv jadul yang sudah tak diproduksi tersebut.

"Jadi kalau komponen kita masih siap untuk stok sih. Jadi maksudnya ada yang kirim mereka, kan itu barang-barangnya orisinal tuh, jadi kanibal. Ada yang suka kirim ke sini. Kadang kalau beli komponen baru kadang nggak bisa pakai. Nggak tau deh, apa dari pabrik sudah bagaimana nggak tahu juga," katanya.

Lebih dari itu, Nano mengatakan bahwa dalam menjalani bisnis ini yang paling dibutuhkan ialah kejujuran dan kepercayaan pelanggan. Sebab, kata dia, sekali pelanggan merasa kecewa dengan jasanya, maka pelanggan baru juga tak akan datang.


"Karena kalau usaha begini kan dari mulut ke mulut. Dari situ doang paling. Pokoknya jangan sampai mengecewakan konsumen, kita harus beri jaminan. Tapi alhamdulillah dari dulu sampai sekarang belum ada kejadian komplain-komplain," tutur Nano.

Nano menambahkan masih akan terus menjalani bisnis ini untuk ke depannya. Ia tak takut hadirnya tv-tv canggih yang ada sekarang ini dapat mematikan bisnisnya. "Ya kalau saya sih jalani saja ya. Selama bisnisnya sehat, ya jalani saja," tutupnya.

Alasan di Balik Masih Bertahannya Bisnis TV Jadul


Simak Video "Sisihkan Ribuan Peserta, Nanobubble.id Juarai WMM 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com