Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 14 Jul 2019 19:11 WIB

Agar Tak Ketinggalan, Jasa Reparasi TV Jadul Harus Punya Keahlian Baru

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta -

Seiring perkembangan teknologi saat ini, berbagai perangkat digital seperti televisi (tv) pintar alias smart tv hadir di masyarakat. Meski tv pintar itu mulai banyak bermunculan, namun bisnis tv jadul seperti reparasi tv tabung masih tetap bertahan hingga sekarang.

Pakar Bisnis dari Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan bisnis lawas seperti reparasi dan jual-beli tv jadul sulit untuk bisa bertahan ke depannya.

"Bertahan sih nggak ya, mereka hanya menyelesaikan sisa-sisa hidup saja. Contohnya koran sekarang kan tidak ada pendapatannya. Pendapatan dari jualan koran nggak ada, bukan sebagai yang utama. Tapi masih ada orang yang beli. Sama juga dengan barang-barang jadul seperti televisi, cuma masih ada yang koleksi saja mungkin," kata Rhenald kepada detikFinance, seperti ditulis Minggu (14/7/2019).


Rhenald mengatakan, tv tabung sekarang ini bukan sebagai perangkat yang menemani generasi baru. Menurutnya, hanya orang-orang tua yang kebanyakan masih menggunakan perangkat tersebut.

"Tapi bukan menemani satu generasi yang sifatnya masal. Orang-orang tua ini, bukan untuk gaya hidup. Orang tua tidak perlu dengan gaya hidup. Jadi bisnis tv tabung seperti itu hanya mengisi celah-celah kekosongan," jelasnya.

Lebih lanjut Rhenald menilai, bahwa kebanyakan yang masih menjalankan profesi di bidang tv jadul ini ialah orang tua. Mereka, kata Rhenald, dinilai sulit untuk bisa mengikuti perkembangan zaman dan mencari peluang di bisnis lainnya.


"Pasti ahli-ahlinya orang-orang tua juga, jadi mereka hanya punya keahlian seperti reparasi itu. Jadi mereka tidak mudah untuk switch, jadi mereka tergerus dengan zaman. Mereka cuma bisa menunggu hingga tergerus saja," katanya.

"Dalam pandangannya saja orang jadul, tetap jadul, hanya manggut-manggut, contoh mudahnya misal pemakaian WhatsApp, mereka pasti kesusahan untuk menggunakannya. Kalau pun ada, yang menginstall pasti orang lain," sambung Rhenald.

Sementara, tambah Rhenald, bila masih ada anak muda yang menjalankan profesi ini disarankan untuk mulai mencari keahlian baru mengikuti perkembangan zaman. Anak muda dinilai masih punya kesempatan yang lebih baik dalam mencoba hal baru.


"Kalau dia pelaku usahanya masih muda harus bisa berpindah. Jadi memang harus ikuti zaman, misalnya dia sekarang reparasi tv tabung, nah itu harus bisa belajar bagaimana memperbaiki tv led atau lcd yang tipis-tipis. Kalau tidak begitu, sulit dia bertahan," tutupnya.

Agar Tak Ketinggalan, Jasa Reparasi TV Jadul Harus Punya Keahlian Baru


Simak Video "Asyik! UMP Tahun 2020 Naik 8,51%"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com