Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 16 Jul 2019 11:50 WIB

Kementan Bangun Gudang Logistik Skala Besar untuk Tingkatkan Ekspor

Akfa Nasrulhak - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Jakarta - Untuk mengakselerasi ekspor, Kementan membangun kawasan logistik pangan khusus komoditas hortikultura skala besar. Bersama investor dan para pelaku usaha, Kementan merancang membangun warehouse dan wholesaler di kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, Makassar, Banjarmasin, Medan dan lainnya berisi produk buah, sayur dan produk lokal Indonesia lainnya.

Produk-produk tersebut rencananya dikirim ke warehouse dan wholesale milik Indonesia yang ada di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, China, Hong Kong, Jepang dan lainnya. Saat ini fokus warehouse di Suncity Biz Sidoarjo.

"Sesuai arahan Pak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mewujudkan kedaulatan pangan, Indonesia negara kepulauan harus memiliki gudang pangan skala besar, ditempatkan di kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan dan Banjarmasin. Ini berguna untuk pengamanan pasokan pangan di dalam maupun bisa dijual keluar negeri. Sistem logistik pangan ukuran jumbo seperti ini sudah ada di Jepang, Dubai dan lainnya," demikian dikemukakan Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi dalam Pertemuan Koordinasi Pemasaran Produk Hortikultura yang dihelat di Kawasan Perdagangan Suncity Biz Sidoarjo, Senin (15/7/2019).


Suwandi menjelaskan terobosan pemasaran hasil produk hortikultura ini harus segera diwujudkan sebab selama ini aktivitas ekspor produk pertanian dilakukan secara sendiri-sendiri dan tunggal yakni hanya satu komoditas.

Dengan begitu, ini merupakan alternatif inovasi baru, sehingga Kementan terus membantu dalam mempermudah perizinan, registrasi kebun, bantuan packaging, sortasi, bantuan benih, bibit dan membangun sentra-sentra produksi dan fasilitas lainnya dan pihak karantina melayani secara online dan inline inspection di warehouse.

"Intinya, kita membangun supermarket tapi posisinya ada di negara lain seperti di Singapura, Hongkong, China dan negara lainnya yang menyajikan komoditas pertanian Indonesia. Jadi importir dan distributor di luar negeri tidak perlu repot mencari di Indonesia, karena kita sudah menyiapkan di sana. Kalau di Suncity Biz ini sudah siap fasilitasnya untuk menampung hasil produksi dari sentra-sentra. Dari sini baru didistribusikan ke supermarket dan pasar ekspor. Di pasar ekspor membuat hal yang sama yakni membangun kawasan seperti ini. Makanya hari ini kita kumpulkan pemasok dari kawasan-kawasan hortikultura. Pihak Suncity Biz menyiapkan warehouse, pihak eksportir dan pelaku usaha mengisi produknya ke dalam warehouse," jelasnya.

Menurut catatan BPS, sepanjang tahun 2018, produksi buah-buahan mencapai 21,5 juta ton, sayuran 13 juta ton, tanaman hias 870 juta tangkai dan tanaman obat mencapai 676 ribu ton. Kinerja volume ekspor hortikultura tahun 2018 mencapai 435 ribu ton, naik 10,36% dibanding tahun 2017 sebanyak 394 ribu ton. Di tahun 2019 ini, Kementan optimis produksi dan volume ekspor hortikultura meningkat.

Oleh karena itu, sambung Suwandi, pasokan berbagai produk hortikultura dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah diproses sortasi, grading dan packaging terus dikirim ke warehouse seperti di Suncity Biz ini. Selanjutnya satu pintu dari Surabaya didistribusikan ke berbagai supermarket dalam negeri dan ke wholesale di luar negeri.

"Sarana dan prasarana seperti di Suncity Biz ini kita jadikan model untuk direplikasi dan dikembangkan di kota besar lainnya di Jakarta, Medan, Makasar dan Banjarmasin. Harapan Mentan Amran sih agar terbangun logistik seperti ini dengan kapasitas total se Indonesia 10 juta ton berisi produk pangan kita," terangnya.

"Selain di Surabaya, di kota-kota besar kita bangun hub sebagai simpul yang menghubungkan dari sentra produksi pangan ke pusat-pusat konsumsi semakin lancar. Ini sudah mendesak seiring dengan pesatnya terbangun infrastruktur jalan tol, pelabuhan, tol laut dan lainnya," tambah Suwandi.

Di tempat yang sama, pemilik Kawasan Perdagangan Suncity Biz, Junaidi mengatakan Sistem logistik pangan ukuran jumbo yang dibangun di Suncity Biz ini merupakan bentuk aplikasi dari Visi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam memotong rantai pasok, mengakselerasi ekspor dan mensejahterakan petani. Dengan demikian, sinergi membangun pasar ekspor hortikultura ini adalah simbol bahwa semua pihak tidak bisa berdiri sendiri karena Indonesia surga buah-buahan dan sayur-sayuran.

"Saya mengaplikasikan visinya Pak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman intinya bahwa di sentra-sentra produksi dibangun hub, terus ada pasar ekspornya dan di pasar luar negerinya kita tidak sekedar menunggu pembelinya, tapi lebih aktif lagi membuka usaha di negara ekspor seperti China, Singapur, Taiwan, Hongkong dan sebagainya," katanya.

Junaidi menegaskan pola pemasaran produk hortikultura perlu dengan membuka pasar sentra komoditas Indonesia di luar negeri. Berangkat dari ini, konsep pasar ini sangat membantu komoditas hortikultura yang umurnya harian atau tidak lahan lama sehingga ada perlakukan khusus, paling tidak soal perizinan.

"Oleh karena itu, dengan membangun kawasan ini dilengkapi dengan kemudahan pelayanan perizinan yang jemput bola di lapangan, tidak ada jeda waktu yang terlalu lama untuk memasarkan produk hortikultura. Saya yakin, ke depan komoditas hortikultura kita semakin menguasai pasar ekspor,. Apalagi ini ditetapkan menjadi kawasan berikat atau kawasan ekonomi khusus dengan berbagai fasilitas kemudahan " tandasnya.


Dirut PT Puspa Agro, Abdullah Muchibudin menyambut baik upaya pemerintah dalam membuka pasar sentra hortikultura, sehingga siap menjadi hub untuk pusat distribusi regional dan provinsi. Kesiapannya sudah matang, yakni tersedia lahan 50 ha untuk kawasan pasar sentra dan termasuk perbankan.

"Pergudangan untuk komoditas hortikultura kami sudah siapkan 3 pintu untuk produk hortikultura yang kering dan cold storage, kapasitasnya 150 ton per pintu," ujarnya.

"Dari sisi perizinan, selama ini benar-benar dibantu Kementan sehingga mendapatkan kemudahan penuh. Misalnya, diminta ikut mengendalikan bawang putih dan diminta untuk melakukan ekspor agar membantu petani mendapatkan harga yang menguntungkan," tambahnya.

Simak Video "Warga Bolivia Kekurangan Makan dan Bensin"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com