Depperin Akan Bantu Revitalisasi Industri Tekstil

Depperin Akan Bantu Revitalisasi Industri Tekstil

- detikFinance
Selasa, 18 Okt 2005 13:05 WIB
Jakarta - Untuk menggairahkan kembali industri tekstil nasional yang pernah berjaya, Departemen Perindustrian (Depperin) sedang mengupayakan dilakukannya revitalisasi.Caranya dengan peremajaan mesin serta merespons permintaan pengusaha agar dilakukan penghapusan pajak capital gain setelah adanya revaluasi aset. Beberapa negara yang sudah melakukan revitalisasi industri tesktil, seperti Thailand dan India, akan menjadi contoh revitalisasi ini."Kita akan membicarakan revitalisasi tekstil ini dengan Menteri Keuangan. Namun yang fundamental adalah meremajakan mesin yang tua," kata Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja usai membuka pasar murah di kantor Depperin, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (18/10/2005).Berdasarkan laporan ke Depperin, industri yang rentan terhadap penutupan usaha adalah tesktil. Pasalnya, mesin-mesin yang sudah tua akan membuat kualitas tekstil menjadi rendah, efisiensi menurun dan bahan bakar yang digunakan tinggi."Saya melihat mereka rentan karena berbagai faktor, tidak bisa bertahan bukan hanya karena kenaikan harga BBM, tapi juga masalah daya saing yang diderita sebelumnya. Karena tekstil itu sangat kompleks dari masalah bahan baku, impor, selundupan dan permesinan," papar Andung.Kalangan industri tesktil di Indonesia yang akan meningkatkan bankable-nya harus melakukan revaluasi aset. Sedangkan dalam aturan revaluasi aset yang ada, terdapat capital gain yang kena pajak. Capital gain inilah yang diminta untuk dihapuskan."Saya akan bicara dengan Menkeu bagaimana pajak capital gain ditangguhkan. Apalagi saat impor mesin-mesin tekstil ada pajak-pajak tertentu yang ditangguhkan pembayarannya, yang jika mesin dijual harus dibayar pajaknya," jelas Andung.Padahal kalangan industri tekstil berharap agar pajak-pajak tertentu yang ditangguhkan pembayarannya dibebaskan saja. "Untuk mempercepat itu, Menkeu, Menko Perekonomian, dan Menperin akan membahasnya," ujar Andung.Masalah lain yang utama dalam pertekstilan, menurut Andung, adalah penyelundupan. "Jadi kalau penyelundupan diberantas, sangat membantu," tandasnya.Mengenai target pertumbuhan industri 6,8 persen pada tahun ini, Andung optimistis hal itu bisa tercapai. Pasalnya, pada semester satu saja pertumbuhan industri sudah mencapai 8 persen.Diakui, pertumbuhan ekonomi saat ini tidak sejalan dengan target industri, karena ada dampak dari kenaikan harga BBM. "Tapi tahun depan diharapkan sudah rebound," harap Andung. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads