Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 23 Jul 2019 17:20 WIB

Harga Cabai Diprediksi Turun Awal Agustus

Hilda Meilisa Rinanda - detikFinance
Foto: Harga Cabai di Purworejo Melejit (Rinto Heksantoro/detikFinance) Foto: Harga Cabai di Purworejo Melejit (Rinto Heksantoro/detikFinance)
Surabaya - Harga cabai di pasaran melonjak hingga Rp 74 ribu-Rp 76 ribu/kilogram (kg). Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur memprediksikan harga akan kembali normal pada awal Agustus 2019.

Kepala Dinas Pertanian Jatim Hadi Sulistyo mengatakan naiknya harga cabai ini diduga karena pasokan cabai dari petani yang mulai langka. Hal ini karena cabai yang ditanam pada musim hujan 2018 hingga 2019 sudah mulai tak produksi karena memasuki musim kemarau.

"Sejak minggu ketiga bulan Juli selama seminggu, pasokan cabai mulai menurun dikarenakan panenan mulai bulan April dan Mei sudah habis. Tanaman cabai yang tanam musim hujan 2018 - 2019 yang ditanam di lahan kering sudah tidak produksi, sudah mati karena umur dan kekurangan air. Sedang tanaman cabai berikutnya ditanam di lahan sawah setelah padi diperkirakan akan mulai panen akhir Juli dan awal Agustus sehingga harga cabai akan mulai turun dan stabil mulai bulan Agustus," kata Hadi kepada detikcom di Surabaya, Selasa (23/7/2019).


Hadi menambahkan di Jatim, ada beberapa daerah yang hasil panen cabainya melimpah. Misalnya saja di Blitar, Kediri, Malang, Tuban, Banyuwangi, Sampang, Pamekasan dan Bangkalan. Hadi menyebut harga cabai di tingkat petani mencapai Rp 58 ribu, sementara di tingkat pedagang mencapai Rp 74 ribu

"Sampai tanggal 23 Juli 2019 harga cabai mencapai Rp 70 ribu di grosir, untuk di tingkat pedagang pengecer Rp 74 ribu, sedangkan di tingkat petani mencapai Rp 58 ribu," ucap Hadi.

Sementara itu, Hadi mengatakan pihaknya juga telah berupaya untuk menjaga pasokan cabai agar tetap ada. Misalnya dengan memanfaatkan brigade agar yang disediakan di setiap KLPK.


"Brigade itu tempat penyimpanan alat-alat pertanian yang bisa dimanfaatkan oleh petani. Kita sudah mengupayakan agar petani bisa memanfaatkan brigade yang ada di tingkat KLPK tani," imbuhnya.

Selain itu, Hadi menyarankan petani juga bisa memanfaatkan pompa air agar kekeringan tidak terjadi, dan petani tetap bisa panen.

"KLPK tani di kecamatan dan kabupaten juga bisa memaksimalkan pompa air untuk membantu memenuhi kebutuhan air," lanjut Hadi.

Simak Video "Harga Cabai di Kendari Meroket, Tapi Tetap Dicari"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com