Greenspan: Dunia Harus Belajar Hidup dengan Mahalnya Minyak
Selasa, 18 Okt 2005 13:43 WIB
Jakarta -
Dunia kini harus mulai belajar hidup dengan tingginya harga minyak dunia dan juga dampak negatifnya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam beberapa waktu ke depan.Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Sentral AS Alan Greenspan dalam kunjungannya ke Jepang seperti dilansir AFP, Selasa (18/10/2005). Kunjungan ke Jepang ini merupakan yang pertama kalinya sejak lima tahun terakhir dan kemungkinan menjadi kunjungan terakhir Greenspan yang akan memasuki masa pensiun pada Januari 2006."Meskipun ekspansi ekonomi dunia sepertinya berada pada jalan yang agak kuat hingga bulan-bulan musim panas, namun kenaikan harga energi baru-baru ini tak diragukan lagi akan dimulai dari sekarang," ujar Greenspan.Namun Greenspan menilai, dampak tingginya harga minyak dunia terhadap pertumbuhan dan inflasi kemungkinan tidak akan separah seperti kejutan minyak pada dekade tahun 1970-an.Jika dilakukan penyesuaian terhadap inflasi, maka harga minyak masih di bawah puncaknya pada Februari 1981 saat terjadinya revolusi Iran dan menyebabkan harga minyak mencapai US$ 75 per barel jika menggunakan harga saat ini.Sementara harga minyak tertinggi setelah masa revolusi tersebut dicapai pada 29 Agustus lalu, saat munculnya badai Katrinya yang menyebabkan harga minyak melonjak ke level US$ 70,85 per barel.Greenspan juga mengkhawatirkan kemungkinan merosotnya produksi dan kapasitas pengolahan minyak mentah. Untuk itu, Greenspan meminta Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OEPC) agar meningkatkan investasi dalam produksi minyak mentah.Langkah itu merupakan bagian dari daya upaya global untuk memenuhi meningkatnya permintaan, terutama dari Cina dan perekonomian berkembang Asia lainnya."Karena konsentrasi geografis dari cadangan terbukti, banyak dari investasi dalam kapasitas produksi minyak mentah dibutuhkan untuk memenuhi permintaan, tanpa harga naik terlalu banyak, perlu dilakukan oleh berbagai perusahaan nasional di OPEC dan perekonomian berkembang lainnya," tambah Greenspan.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































