Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 24 Jul 2019 19:25 WIB

Menkeu era Orde Baru: Gagal Bayar Utang Awal Datangnya Krisis?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Fuad Bawazier, Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VIII (Tengah) Foto: Istimewa Fuad Bawazier, Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VIII (Tengah) Foto: Istimewa
Jakarta - Mantan Menkeu Kabinet Pembangunan VII Fuad Bawazier menilai di banyak negara krisis ekonomi sering diawali dengan gagal bayar utang, baik utang negara ataupun utang swasta.

Menurut Fuad di Indonesia, selama ini banyak orang mengkhawatirkan utang negara khususnya utang valas yang meningkat tajam, hal tersebut menurutnya bisa mengawali terjadinya krisis ekonomi.

"Sebagian ekonom mencemaskan besarnya utang BUMN yang akan mengawali krisis. Kecemasan-kecemasan itu bisa dipahami mengingat umumnya proyek yang dibiayai utang kurang ekonomis pembangunannya dan kurang produktif setelahnya," kata Fuad dalam keterangannya, Rabu (24/7/2019).


Kegaduhan di PT Krakatau Steel, Asuransi Jiwasraya, PT Garuda, isu membengkaknya utang BUMN Karya, dan besarnya kredit bermasalah di bank pelat Merah juga dinilai Fuad masih menjadi sorotan. Meski begitu menurutnya sejauh ini belum ada berita kegagalan BUMN bayar utang.

Namun, Fuad heran gagal bayar utang ternyata diawali oleh pihak swasta, yaitu Grup Duniatex. Dia menilai kegagalan perusahaan ini membayar obligasi merupakan hal tidak wajar.

"Tetapi diluar dugaan, gagal bayar utang justru diawali oleh pihak swasta dari industri tekstil. PT DMDT dari Group Duniatex yang menerbitkan obligasi US$300 juta pada bulan Maret tahun ini gagal bayar kupon obligasinya. Aneh sekali obligasi yang baru berumur 3-4 bulan sudah gagal bayar kupon," kata Fuad.

Fuad mengatakan hal ini bisa jadi penipuan, Duniatex menurutnya juga sudah berutang dari sindikasi bank, termasuk Indonesian Eximbank sebesar Rp 17 triliun. Belum lagi kredit yang didapatkan pada tahun 2018.

"Bisa jadi ini Indikasi penipuan. Grup Duniatex juga menarik utang dari sindikasi bank termasuk bank bank negara termasuk Indonesian Eximbank sebesar Rp 17 triliun," kata Fuad.

"Menjadi lebih mengejutkan lagi ketika JP Morgan mengabarkan bahwa dalam tahun 2018 Group Duniatex telah menerima kredit US$ 362,3 juta dan Rp 5,25 Triliun," lanjutnya.

Kerugian pasti menimpa Duniatex, obligasinya dinilai Fuad akan hancur nilainya. Pemegang sahamnya pun jelas mengalami kerugian.

"Kegagalan bayar utang ini, meski baru kupon, tentu menghancurkan nilai obligasi tersebut sebagai junk, dan mau tidak mau pemegangnya membukukan sebagian kerugian," kata Fuad.

Kejadian ini, kata Fuad bisa mencemaskan pasar modal dan meningkatkan kredit macet perbankan. Bukan cuma Duniatex saja yang penilaiannya menurun, kredit rating Indonesia pun bisa saja terkena imbasnya.

"Tentu kerugian gagal bayar ini bukan saja mencemaskan pasar modal tetapi juga meningkatkan NPL (Non Performing Loan/ kredit macet) perbankan. Akibat ini lembaga pemeringkat kredit mulai ramai ramai menurunkan kredit rating Duniatex, berikutnya bisa jadi kredit rating Indonesia umumnya," jelas Fuad.

"Jika itu terjadi, merupakan signal awal krisis ekonomi Indonesia," tegasnya.


Fuad mengatakan, harapan pasar adalah kejadian gagal bayar ini tidak diikuti debitur swasta lainnya, apalagi BUMN ataupun pemerintah. Sebab bila sampai terjadi bisa saja ini menjadi awal krisis ekonomi.

"Pemerintah tidak pada posisi yang mampu menolong, berbeda dengan saat krisis moneter tahun 1998 ketika pemerintah mampu bertindak sebagai penolong swasta yang gagal bayar utang," kata Fuad.

Fuad menegaskan sebaiknya semua pihak, khususnya pemerintah waspada dan sedia payung sebelum hujan. Fuad juga mengingatkan jangan jumawa bilang ekonomi sedang kuat.

"Sekali lagi jangan berasumsi apalagi berkoar bahwa ekonomi kita kuat, dan ketika krisis benar- benar terjadi cari kambing hitam. Selalu ada solusi asal mau mikir," tutup Fuad.


Menkeu era Orde Baru: Gagal Bayar Utang Awal Datangnya Krisis?


Simak Video "Mantan Menkeu Sebut Utang di Rezim Jokowi Enggak Jelas!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com