Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Jul 2019 13:27 WIB

Gelombang PHK di Akhir Periode Pertama Jokowi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
PHK Krakatau Steel/Foto: M. Iqbal/detikcom PHK Krakatau Steel/Foto: M. Iqbal/detikcom
Jakarta - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mewarnai tahun terakhir periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kabar yang ramai muncul ke publik belakangan ini ialah PHK oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan produsen otomotif Nissan.

Krakatau Steel sendiri diterpa isu PHK 1.300 karyawan. Pihak manajemen pun kemudian buka suara mengenai hal tersebut.

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim menjelaskan saat ini perusahaan sedang melakukan restrukturisasi. Hal ini dilakukan demi mengurangi kerugian yang sudah dialami oleh perusahaan selama tujuh tahun berturut-turut.

"Iya (restrukturisasi), jadi memang kita tidak perpanjang kontrak pegawai outsourcing. Ada misslead dalam proses itu, ada pemelintiran informasi," kata Silmy saat berbincang dengan detikFinance, Senin (1/7/2019).


Dia menambahkan, memang ada surat terkait informasi restrukturisasi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Namun dalam poin surat tersebut tak ada kalimat yang menyatakan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan.

Restrukturisasi yang Silmy lakukan untuk Krakatau Steel mencakup restrukturisasi organisasi, restrukturisasi utang dan restrukturisasi bisnis. "Ini sudah tidak bisa ditawar, tujuh tahun berturut-turut rugi. Judulnya tetap rugi, ini harus dilakukan sesuatu, nggak bisa kita diam-diam saja," jelas dia.

Sementara, Nissan berencana mengurangi 12.500 karyawan di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Nissan mau mengurangi 830 karyawan.

Hal ini disampaikan langsung oleh CEO Hiroto Saikawa dalam konferensi pers. Saikawa dalam jumpa persnya memperlihatkan setidaknya ada 14 negara yang akan mengalami PHK. Namun karena ini merupakan masalah yang sensitif, Saikawa tidak menyebutkan satu per satu negara atau pabrik yang akan mengalami PHK. Presentasi yang memperlihatkan efisiensi investasi itu pun ditutupi.


"Selama tahun fiskal 2018-2019 kami sudah dan mulai mengurangi pekerja di 8 lokasi, sebanyak 6.400 orang lebih dan 6 lokasi mulai tahun fiskal 2020 sampai 2022 sebanyak 6.100 orang, jadi totalnya 12.500 pekerja," ujarnya dalam video yang dirilis Nissan.

Meski tidak menyebut negara mana, namun dari laporan Nikkei, pemotongan pekerja paling banyak terjadi di India sebanyak 1.700 orang. Pemotongan pekerja paling banyak kedua terjadi di Amerika dimana Nissan berencana mengurangi 1.420 pekerja, Meksiko 1.000 pekerja, Jepang 880 pekerja, 470 pekerja di Spanyol, 90 pekerja di Inggris.

Hal ini terjadi karena Nissan dan merek Datsun-nya mengalami kesulitan untuk mendapatkan traksi di negara-negara tersebut, terutama India dan Indonesia, padahal merek Jepang lain performanya cukup bagus.

Kinerja keuangan Nissan pada kuartal I memang kurang bagus. Laba operasional perusahaan di kuartal I-2019 anjlok hingga 99% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Sementara pendapatan perusahaan turun 13%.

Simak Video "Robotisasi dan Ancaman PHK Menanti"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com