Serikat Buruh Ungkap Gejala Gelombang PHK Sejak Tahun 2018

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 30 Jul 2019 16:10 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Gejala gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) telah tampak dari tahun lalu. Gelombang PHK ini terutama terjadi pada sektor manufaktur.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebutkan, gejala tersebut salah satunya terjadi pada industri baja. Terutama, yang menyangkut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

"Sebelumnya saya sudah ngomong, ancaman PHK sudah setahun yang lalu Krakatau Steel karena informasi dari para pekerja subkon (sub kontraktor) memang bukan pekerja Krakatau Steel sudah banyak dirumahkan, shift dikurangi, gejala-gejala itu sudah tampak setahun lalu" katanya kepada detikFinance, Selasa (30/7/2019).


Said menyebut, industri baja terpukul karena masuknya baja murah dari China. Menurutnya, baja China itu membuat baja dalam negeri kalah saing.

"Faktor yang utama di industri baja dari tahun lalu kami sudah ingatkan pemerintah, masuknya baja-baja dari China murah. Saya ambil contoh di Pulogadung ada 7 perusahaan baja baru walaupun kecil-kecil tapi memukul industri baja dalam negeri termasuk Krakatau Steel, mungkin juga faktor tidak efisien Krakatau Steel," paparnya.

Selain itu, dia menyebut ancaman gelombang PHK datang dari industri semen. Tak jauh beda, industri semen terpukul karena masuk industri semen dari China.

"Holcim dan Indocement, saya juga ngomong itu setahun yang lalu barengan Krakatau Steel, karena KSPI itu anggotanya melaporkan situasi perusahaan dan demikian gelombang PHK potensinya sudah ada akhir 2018," jelasnya.


"Sekarang yang agak terancam industri semen nih. Industri semen terbesar China kan Conch, sedang ekspansi besar-besaran termasuk Semen Merah Putih di Pandeglang itu karena mungkin sekarang nggak boleh, dulu sebelum jadi semen bahannya diimpor, itu memukul harga semen di pasar. Kapasitas produksi semen dalam negeri sebelum industri semen China masuk itu sudah melampaui kapasitas produksi. Dengan masuknya semen China yang harganya bisa bersaing memukul Holcim, Nusantara," tutupnya.

Simak Video "KSPI: Dari 10 TKA di RI, 3-4 Orang Positif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)