Setahun Ekonomi SBY-JK
Pesona & Euforia Saja Tak Cukup
Kamis, 20 Okt 2005 10:01 WIB
Jakarta - Kabinet SBY-JK merayakan ulang tahun yang pertama. Dalam setahun, perekonomian Indonesia terus jungkir balik. Ternyata, modal pesona dan euforia datangnya pemerintahan baru saja tak cukup untuk menahan gempuran lesunya perekonomian dunia.Saat 'masa pertumbuhan' ini, kabinet SBY-JK terus digoyang berbagai cobaanekonomi yang menyebabkan perjalanannya bak roller coster, sesaatmencapai titik terbaik, namun akhirnya meluncur deras ke titik terendah.Pada awal pemerintahan, pelaku pasar menyambut dengan sukacita datangnya pemerintahan baru. Optimisme pasar akan membaiknya perekonomian membuat nilai tukar dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menciptakan rekor tertingginya.Namun apa lacur, tingginya harga minyak mentah dunia, kenaikan suku bunga AS, ancaman inflasi dunia akhirnya membalikkan optimisme pelaku pasar. Rupiah dan IHSG pun akhirnya terpuruk ke dalam posisi terendahnya.Dalam catatan detikcom, pada awal pemerintahan SBY-JK, IHSG tercatat pada posisi 834,169 pada 21 Oktober 2004. Namun optimisme munculnya pemimpin baru yang digandrungi kaum ibu ini membuat pelaku pasar seperti 'kalap' dan memburu saham.Dan akhirnya, IHSG pada akhir tahun 2004 pun akhirnya mampu menembus level 1.000, yang merupakan level tertingginya sepanjang sejarah perdagangan saham.Namun fenomena sedikit berbeda ditunjukkan di pasar valas. Jika pada awal pemerintahan SBY, rupiah sempat bercokol di level Rp 9.000-an per dolar AS, namun dalam perjalanannya, rupiah tetap sulit untuk menguat. Dan pada akhir tahun 2004 tetap di kisaran Rp 9.300-an per dolar AS.Memasuki tahun 2005, gonjang-ganjing pasar uang dan pasar saham lebih terasa. IHSG bahkan sempat kembali di bawah level 1.000, namun juga sempat mencapai level tertingginya pada 1.192,203 pada 3 Agustus.Sementara nilai tukar rupiah secara trend justru merosot, seiring terus merayapnya harga minyak dunia.Puncaknya adalah saat nilai tukar rupiah untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir kembali menembus level Rp 10.000/US$, setelah harga minyak mencapai US$ 65 per barel.Level tersebut terbukti memang level sakral. Buktinya, setelah level 10.000/US$ tertembus, rupiah tidak pernah bertahan lama kembali ke level Rp 9.900-an per dolar AS hingga masa satu tahun pemerintahan SBY.Namun seiring menggilanya harga minyak akibat badai Katrina hingga level US$ 70,85/barel pada 29 Agustus lalu, rupiah pun tumbang.Rupiah langsung menembus level tertingginya dalam empat tahun terakhir di Rp 11.700/US$ pada 30 Agustus. Padahal pada masa krisis tahun 1998, rupiah tertinggi dicapai pada level Rp 16.800/US$.Tingginya harga minyak pun memaksa pemerintah mengambil kebijakan yang tidak populis dengan menaikkan harga BBM hingga dua kali dalam setahun, yakni pada 1 Maret dan 1 Oktober.Kebijakan yang 'menyakitkan' ini pun mengancam inflasi yang diperkirakan menembus 12 persen. Padahal semula pemerintah optimistis inflasi hanya bercokol pada level 8 persen.Ancaman inflasi dan merosotnya harga minyak akhirnya membuat BI juga harus mengambil keputusan yang pahit dengan menaikkan tingkat suku bunga. Bahkan BI terpaksa melakukan penyesuaian suku bunga patokan, yakni BI rate, hingga empat kali.Saat pertama kali diluncurkan pada 5 Juli, BI rate berada di level 8.5 persen. Namun seiring kenaikan suku bunga Fed, pada 9 Agustus, BI rate kembali dinaikkan menjadi 8,75 persen.Dan saat rupiah merosot hingga menembus level terendah dalam empat tahun terakhir, BI rate dinaikkan secara drastis menjadi 9,5 persen.Kemudian pada 6 September lalu, BI akhirnya menaikkan BI rate menjadi 10 persen dalam rangka mengendalikan inflasi. Terakhir, seiring makin tingginya ancaman inflasi, BI rate pun dinaikkan menjadi 11 persen pada 4 Oktober.Lengkap sudah penderitaan rakyat dan industri. Suku bunga tinggi, harga BBM mahal. Sementara daya beli semakin turun. Industri pun diperkirakan banyak yang tutup. Gelombang dahsyat PHK pun sudah di depan mata.Belum lagi angka pengangguran yang terus membengkak. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2004 angka pengangguran sebesar 9,86 persen. Namun pada tahun 2005 diperkirakan jumlahnya mencapai 10,26 persen.Padahal janji pemerintahan SBY adalah mengurangi jumlah pengangguran hingga separuhnya selama 5 tahun ke depan.Janji tinggal janji. Pesona setahun lalu tak lagi memikat hati yang sudah tersayat oleh pengingkaran janji.
(qom/)











































