Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Agu 2019 13:39 WIB

Jurus Tekan Impor Beras, RI Bisa Pakai Padi Hibrida

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) merilis penelitian mengenai prospek padi hibrida di dalam negeri. Padi hibrida atau padi persilangan, memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi daripada padi inbrida atau padi biasa.

Senior Research CIPS Indra Khrisnamurti mengatakan, karena tingkat produktivitas yang tinggi, maka padi hibrida tersebut dinilai bisa menekan impor beras.

"Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan impor beras yaitu dengan mengembangkan produktivitas. Beras hibrida ini sendiri memiliki produktivitas musiman rata-rata 7 ton per hektare (Ha), sedangkan padi inbrida 5,15 ton/Ha," katanya dalam diskusi tantangan dan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan produktivitas beras di Indonesia, di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Indra menjelaskan, berdasarkan data dari 2013-2017, terdapat klaim surplus beras sebanyak 15-20 juta ton per tahun. Anehnya, surplus itu tak bisa menutup keran impor ke dalam negeri.

"Ini adalah klaim. Realitanya Indonesia masih mengimpor beras, misalnya (tahun) 2017, 200 ribu ton, 2018 meningkat lebih dari 1 juta ton. Surplus yang sebesar ini ternyata tidak bisa menjamin kebutuhan beras dalam negeri untuk tidak impor lagi," jelas Indra.


Meski produktivitas dalam negeri tidak tergolong rendah, tapi menurut Indra, beras-beras tersebut belum bisa menutupi kebutuhan yang terus meningkat. Karena itu lah diperlukan adanya peningkatan produktivitas untuk menambal kekurangannya, agar tak mengandalkan impor.

"Produktivitas padi di Indonesia bukan yang sangat rendah tapi juga tidak terlalu tinggi. Produktivitas beras di Indonesia lumayan, tapi mengingat kebutuhan yang terus meningkat maka produktivitas ini perlu ditingkatkan," imbuh dia.

Walau begitu, pengembangan padi hibrida sendiri perlu masih memerlukan langkah impor benih. Menurutnya, hal ini dapat dilakukan juga tentunya disertai tujuan untuk mengembangkan benih hibrida di dalam negeri.

"Memang tetap memerlukan impor untuk mengembangkan padi hibrida ini, namun impornya yaitu impor benih untuk ditanamkan kembali di dalam negeri. Tapi dengan langkah tersebut maka kita memiliki kesempatan untuk mengembangkan benih hibrida dalam negeri yang nantinya dapat meningkatkan produksi dalam negeri juga," ucapnya.

Langkah ini diperlukan, untuk meningkatkan ketahanan pangan di dalam negeri agar kebutuhan masyarakat atas pangan terpenuhi.

"Bagi CIPS yang penting adalah ketahanan pangan bahwa masyarakat Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangan yang sesuai, harga yang sesuai, dan mereka tak lagi kekurangan gizi," tutur Indra.



Simak Video "Menanam 'Jokowi' di Dasar Sungai Citarum"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com