Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Agu 2019 16:14 WIB

Ada Insiden Penembakan di Tokonya, Walmart Tetap Jual Senjata

Endah Sekar Wardani - detikFinance
Foto: AP Photo/Andres Leighton Foto: AP Photo/Andres Leighton
Jakarta - Beberapa hari lalu terjadi penembakan di supermarket Walmart di El Paso, Texas Amerika Serikat. Banyak yang mengecam penembakan tersebut terjadi karena bebasnya peredaran senjata api di Amerika Serikat.

Ironisnya, Walmart pun yang jadi ritel terbesar di Amerika Serikat, menjual senjata. Meski ada insiden ini, Walmart tidak berencana berhenti menjual senjata api dan amunisi.

Juru bicara Walmart, Randy Hargrove, Senin (5/8) mengatakan akan terus melanjutkan penjualan senjata di jaringan supermarket terbesar di AS tersebut.

"Kami tetap fokus untuk mendukung rekanan kami, pelanggan kami, dan seluruh komunitas El Paso," katanya dilansir CNN, Selasa (6/8/2019).


Pada tahun 2015, Walmart memberhentikan penjualan senapan dan senjata jenis rifle. Meski menjual pistol di Alaska, dan tidak menjualnya kepada pembeli di bawah umur 21 tahun. Kebijakan tersebut mulai berlaku setelah penembakan massal di Parkland, Florida, pada tahun 2018.

Sementara itu, Burt Flickinger III, Direktur Pelaksana Konsultan Ritel Strategic Resources Group mendesak Walmart untuk berhenti menjual senjata. Walmart saat ini jadi salah satu penjual senjata dan amunisi terbesar di dunia.

"Ini bukan bisnis dengan margin tinggi," katanya. "Jumlah orang yang berburu dan memancing telah menurun secara signifikan," imbuhnya.

Flickinger menjelaskan, Walmart berada di bawah tekanan setelah mengetahui toko penjualan mainan Toys "R" Us tutup pada tahun lalu.


Bisnis itu telah menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di Walmart dan dapat tumbuh lebih jauh dengan inventaris yang lebih banyak, kata Flickinger.

"Senjata dan amunisi penting bagi Walmart di abad ke-20, mungkin pada dekade pertama ini," Tambahnya. "Tapi itu menurun ketika segmen lain seperti mainan dan hewan peliharaan tumbuh. Ini adalah peluang terbesar bagi perusahaan dalam 25 tahun terakhir," kata dia

Sejak penembakan di Parkland, CEO Dick Sporting Goods, Ed Stack menjadi pemimpin dalam upaya pengendalian senjata nasional. Karena langkah ini, penjualan Dick turun. Penggemar senjata pun ada yang bersumpah tak akan membeli barang apapun dari toko ini.

Merespons hal tersebut, Dick pun menarik penjualan senjata di tokonya. Dick menarik penjualan senjata dari 10 tokonya pada akhir tahun lalu, dan 125 toko lainnya awal tahun ini.

Akhirnya, penjualan Dick pulih pada tahun berikutnya. Pemasukan dari penjualan senjata bisa ditutupi oleh produk lain. Dick beralasan menghentikan penjualan senjata tak hanya karena mengontrol penggunaan senjata di masyarakat dan banyak insiden penembakan, tapi juga karena pasar berburu kian sepi.


Sementara Walmart ingin terus melanjutkan bisnis tersebut.

Walmart merupakan pusat perbelanjaan yang menjual segala macam barang kebutuhan, mulai dari makanan pokok, baju, elektronik, produk kecantikan, alat olahraga, hingga persenjataan dan amunisinya.

Dua pesaing terbesarnya yaitu,Target (TGT) dan Amazon (AMZN), tak menjual senjata api. Hal ini menjadikan Walmart sebagai pengecer terbesar di Amerika Serikat.

Simak Video "20 Orang Tewas dalam Penembakan Brutal di Texas"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed