Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 10 Agu 2019 11:34 WIB

Belajar dari NET TV, Juragan Stasiun Televisi Perlu Waspadai Ini

Hendra Kusuma - detikFinance
Karyawan NET TV/Foto: Istimewa Karyawan NET TV/Foto: Istimewa
Jakarta - Kabar para karyawan NET TV yang ditawarakan mengundurkan diri alias resign menjadi buah bibir khalayak banyak. Bagaimana tidak, televisi besutan Wishnutama ini besar karena kualitas gambar yang baik.

Bahkan, beberapa programnya boleh dibilang lebih kekinian dibandingkan dengan stasiun televisi tetangga. Namun, hal tersebut belum cukup untuk membuat manajemen terbebas dari jurang kesulitan.

Praktisi Bisnis yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali menyebutkan, bisnis pertelevisian sedang berat-beratnya menghadapi inovasi industri digital.

"Ini adalah era #MO. Di mana stasiun TV yang basisnya heavy asset tergerus oleh pelaku usaha baru yang light asset," ujar Rhenald saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Sabtu (10/8/2019).


"Industri pertelevisian tengah memasuki fase yang sangat berat. Model bisnis televisi yang kita kenal tiba-tiba dihadang oleh model baru," tambahnya.

Era #MO dianggap sebagai peradaban entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh tidak perlu modal besar karena peradaban ini didukung oleh enam pilar: Artificial Intelligence (AI), Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things (IoT), dan Cloud Computing.

Tagar MO juga dapat diartikan dengan tujuan mobilisasi dan orkestrasi. Sebab, di era baru, #MO membuat bisnis harus hidup dari cara mobilisasi dan orkestrasi ekosistem pakai data.

Kembali ke persoalan NET TV, Rhenald mengatakan pendatang baru seperti Youtube dan Netflix, serta semacamnya mampu memberikan konten yang sama dengan televisi namun mampu diakses masyarkat dengan mudah.

Apalagi, di era serba digital seperti sekarang ini banyak masyarakat yang mengakses apapun hanya lewat smartphone, dan jarang pula menonton televisi.

"Dalam era #MO pemain baru tak perlu memiliki stasiun sendiri, cukup mengorkestrasi para pembuat konten dan bisa tayang di sosial media apakah Youtube maupun Netflix," kata Rhenald.


Dengan kondisi bisnis yang sudah berubah, Rhenald menganggap biaya produksi stasiun televisi konvensional menjadi lebih mahal dibandingkan yang berbasis platform.

Biaya produksi televisi konvensional lebih mahal, dikatakan Rhenald, karena harus memproduksi program yang bisa ditayangkan selama 24 jam.

"Sementara Youtube dan Netflix tak harus produksi sendiri," ujarnya.

Dia menjelaskan, konten yang tersedia di Youtube sebetulnya tergantung dari si Youtubernya sendiri. Konten yang disajikan pun dipastikan lebih murah biaya produksinya.

"Para Youtubers pun cukup membuat program seminggu sekali sekitar 10-40 menit dengan biaya murah pakai kamera sederhana. Mereka bisa dapat pendapatan sekitar 5-10 miliar perbulan," katanya.

"Sementara televisi-televisi nasional harus keluar biaya ratusan miliar perbulan sedangkan pendapatannya belum tentu sebesar itu," tambah dia.

Oleh karena itu, Rhenald menganggap bahwa bisnis pertelevisian konvensional tengah 'berdarah-darah' mengingat fenomena shifting alias perpindahan ke digital.

"Apakah berdarah-darah? Ya dengan terjadinya shifting dari TV ke sosmed, tekanan penurunan pendapatan TV mengakibatkan biaya produksinya mahal," ungkap dia.



Simak Video "Stasiun Televisi di Irak Diserang Kelompok Bersenjata"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com