Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 10 Agu 2019 13:35 WIB

Wawancara Khusus Anak Bos Mayapada

Suka-duka Anak Orang Terkaya RI Garap Bisnis Rumah Sakit

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Vadhia Lidyana Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta -
Mayapada Hospital yang merupakan cabang usaha dari Mayapada Group kini telah berdiri selama 11 tahun. Rumah sakit (RS) ini dibangun oleh Dato Sri Tahir dan anaknya, Jonathan Tahir pada tahun 2008.
Jonathan mengungkapkan, Mayapada Hospital awalnya dibangun dengan ketidaksengajaan. Kala itu, sang ayah yang sering berkunjung ke National University Hospital (NUH) untuk kegiatan amal mendapatkan ide untuk membangun RS di Indonesia yang memiliki standar layaknya NUH dari kenalannya di sana.
"Jadi kita itu memulai usaha kesehatan itu sekitar 11 tahun yang lalu. Itu dimulai saya pikir mungkin tidak sengaja. Jadi memang karena keinginan yang dimulai dari Pak Tahir, ayah saya yang saat itu sering bepergian ke Singapura ke National University Hospital (NUH), yaitu salah satu rumah sakit (RS) pemerintah yang terbaik di Singapura dan RS tempat Ibu Ani Yudhoyono dirawat," ungkap Jonathan ketika ditemui detikFinance, di Mayapada Tower, Jakarta, Kamis (8/8/2019).
"Di NUH Pak Tahir aktif dalam membantu anak-anak dan juga orang Indonesia yang tidak mampu di sana. Ketika itu, dokter yang sudah sangat akrab dengan Pak Tahir berkata, kenapa tidak membuka RS saja di Indonesia? Ayah saya menjawab karena tidak ada kenalan. Kemudian, dokter kenalan ayah saya itu dengan sangat berbesar hati membantu kami untuk mendirikan RS," tambahnya.
Sebagai RS yang dibangun oleh kedua pendiri yang tak memiliki latar belakang pendidikan medis, Mayapada Hospital awalnya cukup sulit bersaing dengan RS-RS lainnya.
"Perkembangannya itu saya lihat di tahun-tahun pertama itu agak susah, karena ini sebuah industri yang masih sangat baru untuk kita. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan medis. Dulu juga sebenarnya Pak Tahir ingin masuk kedokteran, namun ketika muda nilainya tak cukup, akhirnya masuk ke jurusan yang lain," ungkap Jonathan.
Selain itu, Jonathan mengatakan bisnis RS memiliki cara yang berbeda dalam promosi. Meski sebagai pemain baru yang membutuhkan promosi besar-besaran, namun hal itu tak dapat dilakukan.
"Bedanya, bisnis RS ini tidak bisa iklan. Kami tidak bisa iklan di suatu media misalnya dan menuliskan operasi jantung diskon 50%, itu malah tidak ada yang mau datang. Jadi kita harus melakukan pendekatan secara halus, karena ini masalah kepercayaan. Tidak bisa kita bicara frontal, setiap hari pasang advertisement di media itu tidak bisa. Jadi gayanya sangat beda," beber Jonathan.
Hal utama yang dapat dilakukan untuk mempromosikan Mayapada Hospital ini dengan menciptakan kepercayaan di pasien-pasiennya. Jonathan menuturkan, cara terbaik menarik orang ke RS-nya adalah melalui referensi dari orang lain juga yang sudah pernah menerima pelayanan terbaik dari Mayapada Hospital.
"RS itu tergantung kepada kepercayaan. Dan kepercayaan itu bukan hal yang bisa gain over night. Untuk orang mempercayai sesuatu itu butuh waktu dan butuh juga pengalaman, atau juga butuh reference poin. Perlu referensi dari kenalan mengenai Mayapada. Dengan adanya referensi dari orang yang dikenal, maka orang tersebut akan percaya untuk berobat di Mayapada," ujar Komisaris Utama Mayapada Healthcare tersebut.
Jonathan mengatakan, tahun-tahun belakangan ini dirinya melihat perkembangan RS sangat baik dari pelajaran-pelajaran yang ditelannya ketika awal mula adanya Mayapada Hospital.
"Jadi in the beginning it was quiet hard, tapi saya sekarang melihat sudah lebih familiar masyarakat dengan RS Mayapada. Jadi the last few years ini sangat banyak membantu kita dalam pertumbuhan juga, dan itu sudah terefleksi dalam pertumbuhan kami," tandasnya.
Saat ini, Mayapada Hospital sudah memiliki tiga cabang, yaitu di Tangerang, Lebak Bulus, dan Bogor. Rencananya, dalam dua tahun ke depan Mayapada akan membuka empat cabang baru yaitu dua di Surabaya, satu di Bandung, dan terakhir di Kuningan-Jakarta Selatan.





Simak Video "Nahas! 11 Pasien Tewas Saat RS di Rio de Janeiro Terbakar"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com