Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 19 Agu 2019 12:24 WIB

Mengecek Denyut Nadi Industri Televisi Indonesia

Danang Sugianto - detikFinance
Salah satu sinetron di televisi dalam negeri. Foto: Twitter/adhirizkyputra Salah satu sinetron di televisi dalam negeri. Foto: Twitter/adhirizkyputra
Jakarta - Belakangan ini ramai diperbincangkan tentang tentang senjakala industri pertelevisian. Isu ini muncul sejak tersebar kabar NET TV akan mengurangi jumlah karyawan.

Lalu apakah benar para pemain televisi sedang goyah?

Denyut nadi para pemain televisi ada di iklan. Jika lihat secara luas, seharusnya denyut itu masih berdetak.

Menurut data Nielsen Indonesia tentang belanja iklan kuartal I-2019 relatif stabil di angka 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan iti masih didominasi oleh media televisi.

Tercatat total belanja iklan di televisi mencapai Rp 30,9 triliun. Angka itu tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2018. Demikian menurut hasil temuan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel).

Di 3 bulan pertama tahun ini bisa dibilang sangat berkah bagi pemain televisi. Sebab ada pesta demokrasi yang membuat iklan terkait pemilu begitu membeludak.

Di kuartal I-2019 porsi iklan terbesar datang dari kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik dengan total belanja iklan mencapai Rp 2 triliun yang meningkat 11%. Kemudian disusul oleh kategori Layanan Online dengan total belanja iklan Rp 1,9 triliun.

Pengiklan terbesar ketiga datang dari kategori produk Perawatan Rambut dengan total belanja iklan mencapai Rp 1,8 triliun. Kategori Rokok Kretek menghabiskan belanja iklan sebesar Rp 1,7 triliun dengan pertumbuhan 29%.


Di urutan kelima adalah kategori produk Makanan Instan yang tumbuh 37% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya dengan total belanja iklan Rp 1,5 triliun.

Sepanjang periode kampanye Pemilu (24 Maret - 13 April 2019), dari keseluruhan total belanja iklan kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik menyumbangkan porsi cukup besar yaitu 12% dengan total belanja iklan Rp1,1 triliun. Jumlah ini meningkat cukup signifikan jika dibandingkan pada periode kampanye Pemilu tahun 2018 dengan total belanja iklan Rp 429 miliar.

Dari total belanja iklan Pemerintahan dan Organisasi Politik pada periode kampanye pemilu, kontributor iklan terbesar adalah Para Kandidat Calon Presiden & Wakil Presiden dengan total belanja iklan Rp 206,6 miliar, disusul oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan total belanja iklan Rp93,2Miliar.

Pengiklan ketiga terbesar berikutnya adalah Para Calon Legislatif yang mencapai total belanja iklan sebesar Rp 92 miliar. Sementara di posisi keempat dan kelima masing-masing adalah Partai Persatuan Indonesia Rp60,7 miliar dan Partai Solidaritas Indonesia Rp 51,5 miliar.


Nielsen juga mencatat Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar Komisi Pemilihan umum (KPU) sebanyak 5 kali meraih lebih banyak penonton dibandingkan dengan debat yang ditayangkan di televisi pada periode Pemilu sebelumnya di 2014.

Hasil pantauan Nielsen TV Audience Measurement (TAM) mengungkapkan bahwa di samping jumlah stasiun televisi yang lebih banyak menayangkan acara Debat Pilpres di tahun 2019, Debat Pilpres tahun ini juga mendapatkan jangkauan sebesar 67,9%, lebih besar dibandingkan periode tahun 2014 62,9%.

Simak Video "Nah Loh, Pemuda yang Ludahi Jurnalis TV Positif Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com