Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 20 Agu 2019 12:39 WIB

Kementan Tak Risau Anggaran Sektor Pertanian Turun Jadi Rp 21 T

Nurcholis Maarif - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementarian Pertanian (Kementan) Momon Rusmono menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait makin menurunnya anggaran sektor pertanian. Menurutnya, Kementan selama lima tahun terakhir telah bekerja sangat keras untuk terus meningkatkan produksi dan mencukupi ketersediaan pangan.

"Bapak Menteri Pertanian sebagai policy maker secara cerdas dan berani telah menetapkan 80% anggaran Kementan fokus untuk kesejahteraan petani. Alokasi anggaran untuk pembangunan pertanian diperkuat luar biasa," kata Momon dalam keterangannya, pada Selasa (20/8/2019).


Momon menjelaskan anggaran Kementan memang terus turun dari tahun ke tahun. Pada 2015 adalah yang tertinggi yaitu Rp 32,72 triliun. Kemudian pada 2016 turun menjadi Rp 27,72 triliun, tahun 2017 sebesar Rp 24,23 triliun, tahun 2018 sebesar Rp 23,9 triliun, dan tahun 2019 sebesar Rp 21,71. Adapun yang terbaru untuk 2020 ditetapkan sebesar Rp 21,05 triliun.

"Kementan tidak terlalu risau terkait ini. Menilik capaian kinerja Kementan selama lima tahun, faktanya penurunan anggaran bukan menurunkan kinerja. Namun, indikator kinerja makro Kementan selama 2014-2018 malah terus meningkat," ucap Momon.

Menurut Momon, melalui berbagai program unggulan khususnya dalam penyediaan benih unggul, alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan ketersediaan irigasi menjadi fokus Kementan. Momon juga menyebut hasil riset Bappenas yang telah memberikan apresiasi belanja barang dalam program Kementan yang dinilai memacu pertumbuhan ekonomi di daerah. Menurutnya, data BPS, BPKPM, dan Bappenas menjadi sinyal positif fakta capaian Kementan.

"Data ini menunjukkan kesejahteraan petani dari tahun ke tahun makin baik. Daya beli petani meningkat dan mereka mulai dapat menikmati hasil dari pertaniannya," ucap Momon.

Lebih lanjut Momon menjelaskan bahwa angka kemiskinan di perdesaan menurun drastis hingga 13.2% dan inflasi menurun terendah sepanjang sejarah dengan membaiknya pengelolaan sektor pertanian. Selanjutnya, kinerja produksi komoditas strategis pun mencatat rekor baru dalam pencapaian kinerjanya. Pemilihan kebijakan yang tepat serta fokus pada program pengoptimalan kinerja pembangunan pertanian. Selain kinerja indikator makro, kinerja produksi komoditas strategis pertanian juga menjadi bukti keberhasilan yang telah dicapai.


Momon juga menegaskan bahwa beberapa program unggulan dan efisien didorong sebagai solusi permanen. Misalnya untuk kecukupan lahan pertanian yaitu program strategis SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani), kemudian Program BEKERJA (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera), dan penerapan inovasi perbenihan dan mekanisasi menuju pertanian modern. Hal yang tak kalah penting menurutnya yaitu menderegulasi aturan rumit menjadi mudah.

Menurut Momon, pemerintah juga terus mengeluarkan kebijakan dan program terobosan untuk mendongkrak nilai ekspor dan membuka akses pasar luar negeri. Beberapa di antaranya melakukan perundingan kesepakatan persyaratan kesehatan untuk pengeluaran susu ke Fiji dan menyusun informasi teknis komoditas ekspor nanas segar dan pisang ke berbagai negara seperti China, Taiwan, Ukraina, dan Papua New Guenea.

Simak Video "Mentan Copot Distributor Pupuk Nakal Saat Panen Raya"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com