Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 24 Agu 2019 15:05 WIB

Perang Dagang AS-China Berlanjut, Ekonomi Global Kian Suram

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: detik Foto: detik
Jakarta - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memasuki babak baru. China membalas serangan AS dengan memberlakukan tarif untuk barang asal AS yang masuk ke China.

Dua negara itu yang berperang, tapi negara lain akan merasakan dampak. Apa saja dampaknya?

Direktur riset CORE Indonesia Piter Abdullah menjelaskan ketegangan dagang antara AS dan China akan menyebabkan perlambatan ekonomi global semakin dalam.

"Permintaan global juga akan turun dan mengakibatkan volume dan harga barang barang yang diperdagangkan secara global tertahan di level rendah," kata Piter saat dihubungi detikFinance, Sabtu (24/8/2019).

Dia menjelaskan jadi dari sisi perdagangan, eskalasi perang dagang akan mempersulit Indonesia mendorong ekspor. Di sisi lain ada potensi Indonesia menjadi sasaran penetrasi barang-barang impor negara lain yang memanfaatkan keterbukaan perekonomian tanah air.

Terhambatnya ekspor dan peningkatan impor mengakibatkan neraca perdagangan akan terus berpotensi defisit.



Dia menjelaskan, potensi melambatnya ekonomi di masing-masing negara bisa direspons dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar dengan tujuan mencegah resesi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pelonggaran moneter diwujudkan dengan suku bunga yang lebih rendah. Kebijakan moneter bank sentral global akan lebih dovish. Kondisi ini mendorong aliran modal global menuju negara-negara yang menawarkan yield yang tinggi termasuk ke Indonesia. Dampaknya tekanan pelemahan rupiah akan berkurang. Ada potensi rupiah kembali menguat.

"Apa yang harus dilakukan pemerintah? Dengan risiko nilai tukar yang lebih mild, pemerintah dan BI bisa memberikan stimulus perekonomian agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih terpacu," ujar Piter.



Sebelumnya ketegangan dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China makin panas. China akan mengenakan tarif bea masuk kepada barang-barang impor asal AS senilai US$ 75 miliar, dan juga mematok tarif tambahan sebesar 10% dari ketentuan yang sudah berlaku untuk setiap barang yang masuk.

Produk AS yang akan dikenakan tarif tambahan oleh China adalah produk pertanian seperti kedelai, minyak mentah dan pesawat kecil. Tak tanggung-tanggung China juga akan mengenakan tarif untuk mobil dan suku cadang dari AS.

Mengutip Reuters, serangan ini diberikan karena AS kembali mengenakan tarif masuk tambahan senilai US$ 300 miliar untuk barang asal China untuk barang elektronik yang akan berlaku dua tahap pada 1 September dan 15 Desember 2019.


Perang Dagang AS-China Berlanjut, Ekonomi Global Kian Suram


Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com