APGI: Hadapi Lebaran, Produk Impor Garmen Naik 60-70%
Selasa, 25 Okt 2005 00:05 WIB
Jakarta -
Asosiasi Pengusaha Garmen Indonesia (APGI) memperkirakan menjelang hari raya lebaran tahun ini akan terjadi peningkatan produk impor garmen. Peningkatan ini diperkirakan mencapai 60 hingga 70 persen. Hal tersebut dikemukakan Ketua APGI Natsir Mansyur usai buka puasa di Departemen Perdagangan, Jl Ridwan Rais, Jakarta, Senin (24/10/2005)."Coba saja di cek di Tanah Abang, 65 persen pakaian di sana produk impor. Hal ini karena salah satu faktornya di China sekarang sedang musim dingin, jadi pakaian musim panas di obral. Kalau di China dijual Rp 5 ribu per potong, sampai di Indonesia harganya Rp 10 ribu per potong. Ini jauh lebih murah dibanding produk dalam negeri," ungkap Natsir.Hal tersebut cukup beralasan, karena angka konsumsi pakaian jadi di Indonesia mencapai 3,5 kg/kapita sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 1 kg/kapita. "Berarti 2,5 kg/kapita merupakan pasar yang diambil produk impor," jelasnya.Atas dasar tersebut, Natsir meminta insentif untuk sektor garmen berupa pajak impor bahan baku dihapuskan hingga 0 persen. Sementara pajak impor pakaian jadi dinaikkan. "Semakin besar semakin baik, demi menyelamatkan sektor garmen dan meningkatkan produksi dalam negeri," ujar Natsir.Selain menghapuskan pajak impor barang baku, pihaknya juga meminta pemerintah untuk memperbaiki sistem bea cukai. "Kami bosan dengan adanya jalur merah atau jalur hijau. Yang kami anggap bullshit. Karena selama in selain praktek transhipment juga ada praktek numpang dokumen. Misalnya dokumennya impor kain tetapi di dalamnya selain ada kain juga ada pakaian jadi," paparnya.Natsir mensinyalir praktek ini berasal dari Cina atau Hong Kong. Pihaknya melihat dengan membanjirnya produk impor akan merugikan Indonesia. "Karena nilai ekspor garmen di tahun 2000 sebesar US$ 8,5 miliar realisasinya di 2005 ini turun drastis hanya senilai US$ 5 miliar," tambahnya.Sementara itu, APGI memperkirakan 600 ribu orang di sektor garmen akan terkena PHK pasca kenaikan BBM. Hal ini dikarenakan di dalam negeri produk garmen tidak bisa bersaing dengan barang selundupan, sedangkan di pasar internasional juga tidak bisa bersaing dengan produk negara lain.
(ary/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































