Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 27 Agu 2019 12:32 WIB

Menanti RI Jadi Inisiator Mata Uang Bersama ASEAN

Mustiana Lestari - detikFinance
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Director Binaartha Sekuritas Diaz Adityawardhana mengatakan tim Kabinet Jokowi harus diisi orang yang berani membuat terobosan baru. Mereka haruslah ahli di bidang pasar modal dan pasar uang, misalnya dengan menjadi inisiator membuat mata uang bersama negara ASEAN.

Menurut Diaz, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diaz melihat negara makmur bisa diukur dari cadangan Devisa dan nilai mata uangnya. Sejak 2010 sampai saat ini rupiah terdepresiasi 29%,63%,53%,23% terhadap Filipina Peso, Thai Bath, Dollar Singapura, dan Ringgit Malaysia.

"Padahal kita ekonomi terbesar di Asean apalagi ditambah saat sekarang pelemahan Yuan akibat perang tarif yang dilakukan Presiden Trump. Adakah kesalahan dalam sistem ekonomi kita yang telah berjalan selama ini? Sadarkah bahwa krisis Asia 1998 karena Pasar uang dan krisis di Amerika 2008 membuat bursa pasar saham di di seluruh dunia berjatuhan?," tanyanya dalam keterangan tertulis, Senin (26/8/2019).


Oleh karena itu, dia mengatakan pasar uang dan pasar modal dapat membuat ekonomi suatu negara berubah dalam sekejap. Sehingga ini membuktikan pasar uang dan pasar modal adalah elemen yang paling penting dalam sebuah perekonomian suatu negara.

"Apalagi Surat Utang Negara yang kita terbitkan untuk menutup kekurangan Anggaran adalah bagian dari produk pasar modal," lanjutnya.

Lebih lanjut, Diaz beropini agar Indonesia makmur bisa mempelopori terciptanya mata uang bersama Asean seperti mata Uang Euro yang dilakukan oleh Eropa. Tujuannya tak lain meningkatkan pertumbuhan dan integrasi perekonomian Asia Tenggara.

"Dan kabar baiknya Perdana Menteri Mahatir Muhammad pun telah mengusulkan juga konsep serupa di 25th International Conference on the Future Asia30 Mei 2019 untuk membuat mata uang Regional baru berpatokan emas. Harusnya Indonesia bisa menyambut peluang ini dan bisa jadi bisa jadi Mata Uang bersama di Asean ini bisa mengimbangi dominasi US Dollar," tandasnya.


Menurutnya, bila itu terwujud suku bunga pinjaman di Indonesia akan sama dengan negara-negara tetangga. Sehingga dapat bersaing. Terlebih Rupiah masih jadi salah satu yang tertinggi di Asean.

"Kalau suku bunga pinjaman rendah mengakibatkan penciptaan lapangan kerja karena Suku bunga yang lebih rendah akan membuat orang yang mempunyai uang di Bank akan melakukan investasi. Bisa ke pasar modal atau juga bisa ke sektor real ,membuka wirausaha dan akan muncul pengusaha- pengusaha baru," lanjutnya.

Dia menilai pengusaha akan lebih banyak karena syarat pertumbuhan ekonomi adalah jumlah pengusaha minimal 4% dari populasi. Dengan demikian, otomatis spending akan naik signifikan yang berujung ke pertumbuhan ekonomi secara adil dan merata

"Saya sebagai praktisi pasar modal melihat banyak sekali peluang yang dapat dilakukan untuk mendorong ekonomi Indonesia melalui pasar modal apalagi asset perusahaan perusahaan BUMN kita dapat dapat optimalkan dengan meningkatkan kapitalisasi pasarnya sehingga dapat mengakses pinjaman yang lebih besar sehingga dapat membangun infrastruktur di luar Jawa dan di sisi lain dapat melakukan efisiensi dengan merger antar perusahaan sejenis," sambung dia.

Diharapkan hasilnya perusahaan BUMN bisa slim and fit sehingga dapat memberikan deviden yang lebih besar kepada pemerintah sebagai pemegang saham.

"Saya mengibaratkan ASEAN adalah seperti milenial yang akan membuat terobosan-terobosan baru dan kalau kita lebih solid dalam bersatu di segala bidang akan ASEAN akan bisa mengubah peta perekonomian dunia ke depan dan sudah terjadi di Indonesia seperti Gojek yang sudah merambah ke Singapore dan akan terus berkembang ke negara2 lain," tutup dia.



Simak Video "Penyebab Rupiah dan Mata Uang Dunia Melemah"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com