ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 27 Agu 2019 12:55 WIB

Bank Dunia Peringatkan Dampak Perang Dagang ke Ekonomi RI

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Country Director of the World Bank Indonesia Rodrigo Chaves/Vadhia Lidyana-detikFinance Foto: Country Director of the World Bank Indonesia Rodrigo Chaves/Vadhia Lidyana-detikFinance
Jakarta - Perang Dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tak kunjung usai. Hal tersebut pun mengakibatkan perlambatan ekonomi dunia. Lalu, bagaimana dampaknya ke perekonomian Indonesia?

Country Director of the World Bank Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, Indonesia akan terimbas perang dagang AS-China ini. Sebagai negara pengekspor komoditas, kondisi ekonomi global bisa memberi efek terhadap perekonomian Indonesia.

"Dampaknya dari pelemahan ekonomi dunia karena perang dagang ini, jelas perekonomian Indonesia juga melemah. Jika ekonomi dunia melemah, Indonesia juga akan melemah. Karena Indonesia adalah pengekspor komoditas, ini menjadi sebuah tantangan," kata Rodrigo usai menghadiri pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta, Selasa (27/8/2019).


Menurut Rodrigo, kondisi ekonomi dunia adalah hal yang rumit untuk diselesaikan. Perang dagang dua negara besar ini, kata Rodrigo, tak hanya memperlambat ekonomi dunia, tapi berinvestasi juga menjadi sulit.

"Ekonomi dunia adalah area yang rumit. Perang dagang antara dua negara besar ini melemahkan ekonomi dunia. Berinvestasi jadi tidak memungkinkan, hal ini akan meresahkan seluruh pihak," tutur Rodrigo.

Untuk itu, siang ini ia membicarakan beberapa upaya untuk mendorong perekonomian Indonesia dengan Luhut. Di antaranya adalah memacu foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung di Indonesia.

"World Bank punya kolaborasi kuat dengan Pak Luhut. Dia berdiskusi dengan kami, jadi ide kami di Indonesia, ia harus meningkatkan FDI di negara ini. Dan bagaimana memposisikan Indonesia lebih baik ketika berhadapan dengan kondisi ekonomi global. Jadi tadi adalah diskusi yang sangat konstruktif dan terbuka," pungkasnya.

Sebagai informasi, ketegangan dagang yang terjadi antara AS dan China makin panas. China akan mengenakan tarif bea masuk kepada barang-barang impor asal AS senilai US$ 75 miliar, dan juga mematok tarif tambahan sebesar 10% dari ketentuan yang sudah berlaku untuk setiap barang yang masuk.


Produk AS yang akan dikenakan tarif tambahan oleh China adalah produk pertanian seperti kedelai, minyak mentah dan pesawat kecil. Tak tanggung-tanggung China juga akan mengenakan tarif untuk mobil dan suku cadang dari AS.

Mengutip Reuters, serangan ini diberikan karena AS kembali mengenakan tarif masuk tambahan senilai US$ 300 miliar untuk barang asal China untuk barang elektronik yang akan berlaku dua tahap pada 1 September dan 15 Desember 2019.

Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com