Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 29 Agu 2019 10:59 WIB

Gara-gara Brexit, 100 Perusahaan Angkat Kaki dari Inggris

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Sejumlah perusahaan besar mulai angkat kaki dari Inggris. Hal ini menyusul rencana Inggris yang ingin keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menegaskan bahwa negara yang dipimpinnya ini tetap akan pergi dari Eropa dua bulan lagi, walau tanpa kesepakatan alias 'no deal Brexit'. Rencana ini membawa mimpi buruk bagi ekonomi Inggris.

Inggris mulai ditinggalkan sejumlah perusahaan besar, yang selama ini menjadikan London sebagai pusat bisnisnya. Setidaknya hampir 100 perusahaan sudah direlokasi ke Belanda. Bahkan, berdasarkan data Lembaga Investasi Asing Belanda (NFIA) terdapat 325 perusahaan lain yang kini tengah berpikir untuk pindah dari dari Inggris ke Belanda.

"Ketidakpastian yang terus meningkat di Inggris Raya, dan semakin jelas kemungkinan (Brexit) tanpa ada kesepakatan, menyebabkan keresahan ekonomi besar bagi perusahaan-perusahaan ini," kata Komisaris NFIA Jeroen Nijland sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, Kamis (29/8/2019).

"Itulah sebabnya semakin banyak perusahaan mengorientasikan diri mereka di Belanda sebagai basis baru yang potensial di pasar Eropa," lanjutnya.


Perusahaan tersebut terdiri dari lembaga keuangan, teknologi informasi, media, periklanan, penelitian dan kesehatan. Bukan hanya Belanda, sejumlah negara juga menjadi tujuan relokasi antara lain Jerman, Prancis, Belgia dan Irlandia.

Sementara itu, salah satu perusahaan yang berencana memindahkan bisnisnya adalah Aviva. Perusahaan asuransi terbesar kedua di Inggris itu pada bulan Februari mengumumkan akan memindahkan aset senilai 7,8 miliar poundsterling ke Irlandia, seperti dikutip dari Independent.

Selain itu, bank-bank besar seperti Bank of America Merrill Lynch, Credit Suisse dan Barclays juga telah dan berencana menutup bisnisnya di Inggris. Perusahaan internasional mulai dari Honda, Nissan, Michelin, Phillips, Sony hingga Moneygram asal Amerika Serikat (AS) juga berencana memindahkan operasinya keluar Inggris.

Dari sisi ekonomi, Brexit terancam membawa kekacauan pada ekonomi Inggris, yang merupakan ekonomi terbesar kelima di dunia. Bahkan, menurut laporan The Times pada Desember tahun lalu, ekonomi Inggris bisa turun ke posisi ketujuh ekonomi terbesar di dunia akibat Brexit.

Selain itu, masa transisi bagi Inggris setelah Brexit juga diperkirakan akan membuat negara terjerat krisis. Hal ini tentunya membuat takut berbagai pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di Inggris. Karenanya, tidak mengherankan jika saat ini semakin banyak perusahaan yang berencana dan meninggalkan Inggris serta mengalihkan operasinya ke negara lain.


Artikel asli ini dapat dilihat di CNBC Indonesia berjudul No Deal Brexit, 100 Perusahaan Hengkang Dari Inggris.

Simak Video "Momen Emosional Pengunduran PM Inggris Theresa May"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com