Industri Kulit & Keramik Gulung Tikar, PHK Massal Terjadi
Kamis, 27 Okt 2005 06:36 WIB
Jakarta - Ancaman PHK besar-besaran sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak ternyata bukan hanya terjadi di sektor tekstil saja yang telah merumahkan 70 ribu tenaga kerja. Sebanyak 90 industri kulit di Yogyakarta telah mati dan ribuan orang telah kehilangan mata pencaharian.Hal ini terungkap dalam paparan Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Suryani Sidik Motik dalam diskusi tentang carut marut potret perdagangan dan perindustrian di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (26/10/2005). "Dampak dari kenaikan harga BBM telah mematikan 90 industri kulit di Yogyakarta,. Bukan hanya itu di Plered, Purwakarta, sekitar 4.000 tenaga kerja dari industri tembikar dan keramik terpaksa dirumahkan karena usahanya gulung tikar," kata Motik. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan menambahkan, di sejumlah daerah sentra industri semisal Pekalongan, para pekerja diharuskan membawa BBM sendiri untuk kepentingan industrinya karena disparitas harga BBM sektor industri yang lebih tinggi sekitar Rp 2.000 per liter. Selain itu, para pelaku industri juga menyayangkan ketidakjelasan kebijakan pemerintah karena produk dalam negeri kian terdesak produk impor terutama dari Cina."Saat ini bukan hanya di tekstil dan garmen, di sektor industri makanan dan minuman pun produk lokal sudah tidak bisa bersaing. Sebab, biaya untuk impor produk jadi lebih murah daripada bahan baku. Ini yang sangat disesalkan pelaku usaha," keluh Thomas.
(gtp/)











































