Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 07 Sep 2019 11:30 WIB

Produksi Bawang Putih Naik Tapi Masih Impor, Ini Kata Kementan

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Foto: shutterstocks Foto: shutterstocks
Jakarta -

Kementerian Pertanian menjelaskan perihal impor bawang putih yang disoroti belakangan ini. Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto, menjelaskan sebenarnya produksi bawang putih dalam negeri mulai meningkat. Namun impor tetap diperlukan justru agar Indonesia bisa cepat menuju swasembada.

Ia menyayangkan sebagian pengamat yang berpola pikir linier tanpa memahami substansi persoalan produksi bawang putih. Mereka, kata dia, memaksakan pandangan bahwa peningkatan produksi harus selalu berkorelasi langsung dengan penurunan volume impor bawang putih konsumsi.

"Sangat naif jika ada yang menuduh pemerintah khususnya Kementerian Pertanian seolah memuseumkan angka produksi bawang putih nasional, bahkan dituding melindungi dan memproteksi agar produksi tetap di kisaran yang terus kecil," ujarnya dalam keterangan tertulis, (7/9/2019).

Badan Pusat Statistik mencatat, luas tanam bawang putih memang meningkat 147% dari 3.274 hektare di 2017 menjadi 8.073 hektare di 2018.Demikian pula produksi bawang putih yang naik dari 19.510 ton menjadi 39.300 ton. "Tahun 2019 diprediksi angkanya semakin meningkat," tuturnya.

Bagi Prihasto, angka tersebut patut diapresiasi sebab, sejak 1998, luas panen bawang putih di Indonesia terus menyusut hingga 2010 dan stagnan sampai BPS menunjukkan data tahun 2018.

"Luas panen nasional cenderung stagnan di kisaran 2 ribu hektare dan produksi di kisaran 15 ribu hingga 20 ribu ton. Stagnasi tersebut terjadi hingga tahun 2017 lalu," terangnya.

Minimnya luas tanam sebelum 2017 sangat menyulitkan petani untuk mendorong kapasitas produksi dan mencapai swasembada. Sebab produksi bawang putih lokal masih harus digunakan untuk dua kebutuhan sekaligus: konsumsi dan benih.

Akibatnya produksi yang ada tidak mampu memenuhi pangsa pasar konsumsi bawang lokal yang sebenarnya masih sangat besar. "Keterbatasan benih menyebabkan produksi terbatas, demikian pula sebaliknya," imbuh Prihasto.

Untuk memutus 'lingkaran setan' tersebut, Kementan pun mengambil langkah tegas dengan memfokuskan produksi dalam negeri hanya untuk satu kebutuhan, yaitu pembenihan. Oleh karena itu, impor tetap dibutuhkan untuk saat ini.

Dengan cara itu, hemat Prihasto, peningkatan produksi bawang putih dapat digenjot dengan cepat dan swasembada tinggal menunggu waktu.

"Seluruh hasil produksi difokuskan untuk benih musim tanam berikutnya. Ketersediaan benih dalam negeri harus terpenuhi dulu sampai jumlah tertentu agar bisa menanam dengan luasan yang cukup sesuai kebutuhan. Toh lahan juga siap tersedia dan sudah dipetakan," jelasnya.

Pemerintah sebenarnya juga sudah mengurangi impor. Meski tidak berwenang mengatur kuota, Kementan mewajibkan importasi bawang putih memenuhi persyaratan teknis keamanan pangan, yakni kontribusi tambahan produksi (menanam bibit bawang putih) 5% dari pengajuan impor.

Artinya, izin importasi diawasi dengan cukup ketat. "Ini upaya persuasif pemerintah untuk merangkul dan mengajak para importir yang notabene bagian dari anak negeri ini untuk lebih peduli dengan nasib bangsanya terutama petani bawang putih," lanjutnya.

Kementan, tutur Prihasto, juga memfasilitasi para importir agar bisa bermitra dengan kelompok-kelompok tani untuk bahu membahu menanam kembali bawang putih.

Tujuannya satu, stakeholder bawang putih bisa saling bersinergi meningkatkan produksi bawang putih nasional dan importir masih diberikan waktu yang cukup untuk tetap menjalankan usaha bisnisnya.

"Kementan bahkan memfasilitasi kemitraan tersebut hingga bimbingan teknis budidayanya," sambungnya.

Di samping itu, kebijakan membangkitkan kembali bawang putih dalam negeri bertajuk 'swasembada' juga kembali digulirkan oleh Kementan.

Dua tahun belakangan, ucap Prihasto, optimisme untuk swasembada muncul saat data luas tanam dan produksi bawang putih menunjukkan kenaikan. "Pengamat yang berpola pikir linier, pasti terhenyak dengan kebijakan tersebut," pungkasnya.





Simak Video "Pasca Digeledah KPK, Mentan Amran Copot Pejabat Eselon II-IV"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com