September, RI Ekspor 1,6 Ton Mangga hingga 1.000 Ular Jali

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Sabtu, 07 Sep 2019 15:00 WIB
Foto: shutterstocks
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong ekspor produk hortikultura Indonesia. Di bulan ini, Kementan telah melepas ekspor beberapa produk pertanian. Beberapa di antaranya adalah buah mangga sebanyak 1,6 ton, bibit tanaman hias sebanyak 141,3 ribu batang, sarang burung walet (SBW) sebanyak 51,5 kg, telur hatching eggs (HE) sebanyak 60,5 ribu butir, serta ular jali sebanyak 1.000 ekor.

"Total nilai ekonomi ekspor produk pertanian yang diekspor kali ini sebesar Rp 2,2 miliar," kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Ali Jamil dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/9/2019).

Melalui berbagai perangkat kerjanya, kata Ali, Kementan juga terus membuka potensi pasar ekspor untuk komoditas holtikultura. Untuk sayuran misalnya, Kabupaten Bandung tercatat menjadi pemasok andalan ke negara Singapura.

"Pasar produk pertanian khususnya berupa sayuran dan buah-buahan sangat terbuka luas di Singapura," terangnya.

Pemerintah juga tengah berupaya membuka keran ekspor tanaman hias ke berbagai negara, di antaranya ekspor tanaman hias yang sudah menembus pasar Belanda.

"Kemudian ada juga beberapa jenis komoditas lainnya yang sudah diekspor ke Cina dan negara-negara lain di kawasan Asia, Eropa serta Amerika. Adapun jenis yang sering dikirim adalah selada air, jamur, buncis, lobak, bit, labu siam, waluh lokal, dan kentang," lanjut Ali.

Semua bahan komoditas itu dikirim dari beberapa daerah seperti Provinsi Jawa Barat, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Indonesia bagian Timur lainnya.

Sementara itu, khusus untuk pengiriman produk hortikultura, pemerintah sudah membuat rute pengiriman, yakni melalui Bandar Udara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Laut Tanjung Priok. Penggunaan di dua lokasi ini dibuat untuk menyesuaikan tingkat ketahanan masing-masing komoditas yang diekspor.

"Ekspor sayuran ini semakin membuktikan bahwa pemerintah berkomitmen meningkatkan produksi dan kualitas komoditas sayuran. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun sanggup mengisi pasar luar negeri," tutur Ali.

Sebagai informasi Balai Karantina Pertanian sendiri telah menggagas program Agro Gemilang untuk meningkatkan kualitas barang dan membuka keran ekspor. Program ini tak hanya berfokus pada pendampingan teknis, tapi juga edukasi pada calon eksportir baru dengan menggunakan aplikasi i-MACE.





Simak Video "Jokowi: Saya Senang Ekspor Surplus, Tapi Jangan Cepat Puas!"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)