Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 07 Sep 2019 16:05 WIB

Kalah Saing dari Negara Tetangga, Biaya Logistik RI Kemahalan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Beberapa hari lalu, Bank Dunia menyampaikan paparan tentang ekonomi Indonesia di depan pemerintah. Indonesia disebut tak dilirik oleh investor karena masih memiliki beberapa masalah mulai dari sumber daya manusia (SDM) sampai masalah perizinan.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan masalah yang dihadapi oleh Indonesia ketika bersaing dengan negara tetangga adalah tingginya biaya logistik.

"Soal biaya logistik, di Indonesia itu mahal di kisaran 22-24% terhadap produk domestik bruto (PDB). Ini artinya seperempat biaya sebuah produk sudah habis untuk ongkir sendiri," kata Bhima saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/9/2019).

Selain itu, ditambah infrastruktur industri yang masih tertinggal dan proses bea cukai yang memakan waktu juga ikut menambah beban.

Kemudian, soal sumber daya manusia di sektor manufaktur. Menurut dia, saat ini banyak investasi manufaktur yang potensial khususnya tekstil, elektronik dan otomotif.

"Tapi SDM kita hanya mengandalkan upah yang rendah, padahal upah bukan faktor utama perusahaan melakukan relokasi industri, karena SDM kita kurang kompetitif," imbuh dia.



Hal ini karena lembaga pendidikan di Indonesia hanya mengajarkan hal yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan rantai pasok global.

"Itu PR yang perlu diperbaiki, reformasi institusi pendidikan secara besar-besaran yang diperlukan," jelas dia.

Dalam paparan Bank Dunia ke pemerintah yang diterima detikcom disebutkan Indonesia juga tidak memiliki jumlah insinyur yang cukup mulai dari bagian produksi, proses, desain, manajer hingga perencanaan produksi.

Selain itu, pembatasan investasi langsung juga membuat biaya logistik lebih tinggi dan tarif listrik yang lebih mahal membuat investor membandingkan dengan negara lain.

Menurut Bank Dunia, dibutuhkan kebijaksanaan dan pertimbangan dalam penyusunan aturan dan penegakan hukum.



Simak Video "Dapat Tugas Tambahan Urus Investasi, Luhut: Ya Terima Saja"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com