Kompor Minyak Masih Populer Dibanding Briket
Kamis, 27 Okt 2005 22:27 WIB
Jakarta - Meski pemerintah sudah menggalakan penggunaan briket batu bara sebagai pengganti minyak tanah untuk kompor, tampaknya masyarakat masih belum percaya untuk mengalihkan penggunaan energinya. Masyarakat masih memandang minyak tanah masih jauh lebih ekonomis dibanding briket.Berdasarkan pantauan detikcom di sepanjang Jl Dewi sartika Jakarta timur yang merupakan sentra penjualan kompor, terlihat hanya beberapa toko yang mau membuat kompor briket batu bara. Salah satunya Toko Fahmy Kompor. Pemilik toko bernama Fitria mengungkapkan, semenjak kenaikan harga minyak tanah 185,5% dari Rp 700 ke Rp 2000/liter serta terjadinya kelangkaan minyak tanah, tokonya mulai kembali membuat kompor briket batu bara dengan harga Rp 40 ribu-Rp 50 ribu."Memang dalam sebulan ini banyak yang datang bertanya tapi setelah tahu pemakaian Briket ribet dan susah cari distributornya, mereka tidak jadi beli, " keluh Fitria, Kamis (27/10/2005).Justru menurutnya, dengan harga Rp 40 ribu hingga Rp 120 ribu, kompor mengalami kenaikan penjualan sebesar 30-40%. Begitu juga dengan oven, penjualannya yang satu unitnya mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, permintaannya naik sebesar 50% hingga 70%.Begitu juga dengan Sidik, Pemilik Toko Karya kompor. "Selama sebulan ini baru laku 3 buah. Alasannya mereka tidak beli karena susah cari distributor," terang Sidik.Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan zaman Soeharto, dimana briket diproduksi dalam jumlah besar. "Seharusnya pemerintah kalau mau galakkan ya mendrop briket batubara di dekat perumahan penduduk dengan banyak distributor," ujarnya.Dia menjelaskan, pemakaian briket lumayan rumit dan menyita waktu. Briket harus direndam dulu di minyak tanah atau spirtus agar bisa dibakar. Kalau sudah menyala, briket dapat menyala hingga 2 jam lamanya. "Untuk mematikannya juga perlu waktu. Sedangkan kalau mau dipakai, harus direndam minyak tanah kembali," terangnya.
(atq/)











































