Saat bergabung menjadi agen pada 2015, Taufik hanya ingin supaya ia bisa lebih mudah mengirim uang ke sanak keluarganya yang ada di Medan. Maklum saja, transfer adalah satu-satunya cara yang paling efisien untuk mengirim uang ke luar wilayah Simeulue.
Butuh waktu belasan jam mengarungi laut untuk bisa menyeberang dari Simeulue ke Medan maupun ke Banda Aceh.Di pulau yang berpenduduk hanya 85.000 jiwa ini, satu-satunya bank yang cukup besar ada di pusat kota Sinabang yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Ia harus menempuh jarak hingga ratusan kilometer (km) dari rumahnya menuju Kota Sinabang. Namun hal itu tak sama sekali menyurutkan nyalinya.
"Jadi agen bank itu dulu keuntungan pribadi buat saya saja, saya bisa mudah kirim uang ke Medan. Jadi istilahnya tuh agak gampang buat mentransfer," tuturnya saat ditemui detikcom.
Selain jarak yang jauh, Taufik harus mengambil uang ke Kantor Unit BRI Sinabang dengan menggunakan sepeda motor. Dengan jumlah transaksi yang cukup banyak di agennya, Taufik pernah membawa uang tunai Rp 200 juta dari kota Sinabang ke Kecamatan Simeulue Barat.
"Pernah bawa uang tunai Rp 200 juta. Saya bawa dalam kantong plastik, taruh di jok motor saja," ungkapnya.
Jalan yang harus dilintasi Taufik juga tidak selalu mulus. Dari Simeulue Barat ia harus melewati medan yang terjal, mulai dari jalan yang berkelok di sisi jurang juga jalan yang belum diaspal.
![]() |
Lebih parahnya lagi, kalau terlambat pulang dari Kota Sinabang. Saat hari sudah mulai gelap Taufik mau tak mau harus melewati jalan yang minim penerangan. Hanya ada satu atau dua kendaraan saja yang melintas.
Kendati begitu, Taufik tidak pernah takut ada begal alias rampok. Agak masuk akal memang, karena warga di pulau ini memang hanya berpenduduk 85.000 jiwa saja. Sehingga tidak sulit untuk mengetahui siapa saja yang ada di tiap kecamatan.
"Selama ini saya nggak pernah ada apa-apa di jalan. Karena orang-orang di sini juga sudah tahu (sudah saling kenal) kan. Jadi ya Lillahi ta'ala saja," ujarnya.
Untuk menjadi agen BRILink, Taufik dibekali dengan mesin Electronic Data Capture (EDC). Pada saat awal-awal memakai EDC yang pertama, Taufik kerap tak bisa melakukan transaksi lantaran terkendala listrik.
"Kendala kami dulu kalau mati lampu nggak bisa ngapa-ngapain. Transaksi nggak bisa, transfer juga ga bisa," jelasnya.
Saat ini, ia sudah mengganti mesin EDC dengan versi baru yang dapat menggunakan baterai. Sehingga, tak ada lagi cerita tak bisa melakukan transaksi. Diakui Taufik, dari hasil transaksi menjadi agen BRILink, per harinya ia meraup untung rata-rata Rp 300 ribu.
![]() |
"Ada untuk ditransaksi dibagi dua (bagi hasil keuntungan), kalau antar bank Rp 15.000. Nanti yang Rp 7.500 buat BRI, lalu Rp 7.500 nya lagi buat saya. Kalau sesama BRI Rp 3.000 dapatnya," tutur Taufik.
Dalam menjalankan program layanan keuangan tanpa kantor atau Laku Pandai, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI punya agen BRILink. Agen BRILink adalah masyarakat yang berada di wilayah-wilayah terluar Indonesia. Mereka menjadi kepanjangan tangan dari BRI untuk menyediakan fasilitas dan layanan keuangan.
detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!
(ujm/ujm)