Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Sep 2019 15:08 WIB

Saga Perang Dagang AS-China Diramal Masih Panjang

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan China kembali melakukan pertemuan terkait penyelesaian perang dagang pada Kamis, 19 September lalu. Perang dagang diharapkan mereda setelah kedua negara berunding. Namun pemerintah Indonesia menilai ketegangan kedua negara belum akan berakhir.

Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Hidayat Amir menjelaskan, meskipun tensi perang dagang mungkin sesekali mereda tapi beberapa saat kemudian akan kembali memanas.

"Adanya tensi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang tak kunjung selesai, sedikit mereda, kembali memanas dan seterusnya. Kelihatannya ini mungkin tidak akan segera berakhir, akan menjadi romantika beberapa tahun terakhir ini," kata dia di acara Forum Indonesia Economic Outlook 2020 di Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Tensi perang dagang pun diperparah dengan tekanan geopolitik lainnya yang terjadi di dunia, misalnya memburuknya hubungan Jepang dan Korea Selatan. Bahkan baru-baru ini terjadi penyerangan di fasilitas minyak milik Saudi Aramco.

"Tiba-tiba kita dikagetkan dengan penyerangan fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi, Brexit juga masih belum kunjung selesai, krisis di Argentina, menambah daftar ketidakpastian yang mengancam pertumbuhan ekonomi global," jelasnya.



Saat ini, lanjut dia aktivitas riil perekonomian global masih menunjukkan perlambatan. Itu dapat dilihat dari melemahnya pertumbuhan ekonomi di banyak negara.

Kurun 2-3 tahun terakhir, menurutnya pertumbuhan perekonomian negara-negara dunia hampir semuanya mengalami penurunan. Kinerja manufaktur dan perdagangan juga menurun.

"Mengacu pada data IMF, pertumbuhan volume perdagangan dunia saat ini masih rendah, belum dapat kembali ke level sebelum krisis global tahun 2008. Padahal perdagangan global masih menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi yang penting bagi negara-negara di dunia," tambahnya.

Untuk diketahui, pertemuan AS-China Kamis lalu membahas pokok-pokok pertemuan Oktober mendatang yang akan membahas soal penerapan tarif.

Pertemuan dihadiri oleh 30 perwakilan China, yang dipimpin oleh Wakil Menteri Keuangan Liao Min, bertemu perwakilan AS yang dipimpin oleh Perwakilan Dagang AS Jeffrey Gerrish di kantornya dekat Gedung Putih.

"Pertemuan tersebut fokus pada sektor pertanian, termasuk permintaan AS agar China secara substansial meningkatkan pembelian kedelai AS dan komoditas pertanian lainnya," kata salah satu peserta dalam pertemuan tersebut dikutip dari Reuters, Jumat (20/9/2019)

Dua sesi negosiasi pada Kamis-Jumat waktu setempat sebagian besar membahas soal pertanian. Sementara ada satu isu yang dibahas khusus adalah transfer teknologi AS ke China.



Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com